Monday, December 21, 2009

Kisah Cinta yang Mengharukan


KISAH CINTA MENGHARUKAN –kamu mau dimadu atau diceraikan??–
By Pradini Puspitaningayu
Kisah Perjalanan Cinta yang Mengharukan..

Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.
***
Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
Pernikahan kami sederhana namun meriah…..
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..
Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
***
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
***
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.
***
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
***
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
***
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..
***
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.
***
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
***
Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
***
Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”


***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.
================================================== ===
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
ibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
Aku harus sadar diri.
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela.
Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.
Sebelum ajal ini menjemputku.
Ayah.. aku kangen ayah..
================================================== ===
Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.
Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
Ayah Sayang Bunda..

Thursday, December 17, 2009

Puisi Untuk suamiku Tersayang.....



Malam itu tiba-tiba aku terbangun
Terkejut aku ketika tak melihatmu disampingku
Kamu kemana?

Lalu aku lihat dirimu
Duduk tertidur menggendong bayi kita
Sejenak aku tercenung
Kenapa kau tidak membangunkanku sayang?

Cahaya rembulan menyorot tipis wajah letihmu
Padahal kau baru tidur 2 jam
Tapi kau rela menahan lelahmu
Demi sikecil yang tertidur lelap dalam hangat dekapanmu

Sejak kita menikah setahun yang lalu
Kamu telah banyak berubah
Kamu tak lagi romantis seperti dulu
Kamu tak lagi memujiku dengan kata2 manis
Atau menelponku sekedar hanya ingin melepas kangen

Kamu sudah berubah
Kamu berubah menjadi seorang ayah yang rela terbangun ditengah malam untuk mengganti popok anak kita
Kamu berubah menjadi seorang pekerja keras yang rela pulang malam demi tambahan uang lembur
Kamu berubah menjadi seorang laki-laki yang rela memijat dan memelukku ketika aku jatuh sakit

Kau pernah berkata
Menyesalkan dirimu yang belum bisa memberikan aku apa-apa
Tak bisa menjadi suami yang pekerjaannya dapat dibanggakan
Aku tak butuh itu semua sayang,
Karena menikahimu adalah pilihan terbaik dalam hidupku

Kau juga pernah meratapi wajah bulat anak kita yang mirip denganmu
Kenapa anak kita wajahnya engga kayak kamu aja yah ? Candamu
Karena kau merasa tidak memiliki fisik yang membanggakan untuk diturunkan pada anak kita
Kenapa kamu harus merasa rendah diri sayang?
Buktinya aku tak pernah habis pikir kenapa lelaki setampan dan segagah ini mau bersanding denganku 
Dan rela meninggalkan masa muda dan kesempatan emas untuk berkarir lebih
Karena kau memilih untuk menikah denganku

Aku cinta kesederhanaanmu
Aku cinta kata-kata pedas namun berisi kebenaranmu
Aku cinta sifat malas dan perut buncitmu
Aku bahkan mencintai setiap jengkal jerawat diwajahmu hehehe…
Aku mencintai segala yang ada di dirimu, suamiku…

Selamat ulang tahun , Sayang
Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang sempurna
Tapi yakinlah
Cinta dan diriku adalah kado yang kau miliki seumur hidup

Wednesday, November 11, 2009

Rainy Day Kissing....


Hari ini hujan turun lagi...deras kutatap langit yang tampak gelap.... Terlihat begitu indah di pandangan mataku. hujan...selalu bisa memberikan kebahagian tersendiri untukku. merasakan bulir - bulirnya jatuh, basah. Hujan... selalu membawa kembali kenangan - kenangan manis .....tentang sahabat, keluarga dan yang paling sering adalah tentang cinta. Hujan.....membuatku teringat kebeberapa tahun lalu saat aku dan suami masih menjadi sepasang kekasih. bersama tertawa....bahagia....bercanda, saling menatap dia bawah guyuran hujan. Merasakan kehangatan di tengah hari dingin ketika tangannya mendekap tanganku erat. ahhh.....sungguh indah bahkan dengan hanya mengingatnya aku benar - benar bisa menghadirkan kembali kehangatan itu. Tiba - tiba.....rasa rinduku memuncak, terbayang dekapan suamiku semalam....Hangat!!! Manis!!! sentuhannya di perutku sambil berbicara dengan bayi kami, kecupan selamat tidurnya!!! indah...begitu indah sekali... Hujan......datanglah lagi, hari ini biarkan aku bermimpi tentang indahnya hari - hariku.... esok datanglah lagi dengan cerita baru...dan kebahagian baru...yang lain lagi

Sunday, November 8, 2009

Sandal Jepit Istriku.....


SANDAL JEPIT ISTRIKU

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Maret 7, 2007

baitijannati. Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

***

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

***

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.

Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?


Rabb, andai abang bisa mengerti aku!!!

Tuesday, October 27, 2009

Today is a Gift....


ya...seperti yang aku kutip dari blognya teh ninit ( www.istribawel.com)  Today is a gift thats why it called present. Aku bersyukur atas hari ini. bersyukur karna saat aku terbangun, aku masih di beri kesempatan untuk memandang orang yang sangat kucintai terbangun dan menggeliat dalam tidurnya. Aku bersyukur atas makanan yang kumakan hari ini, karna bayangkan jika aku tidak makan selama 1 hari ini alangkah kasihannya bayi dalan kandunganku pasti dia sudah berteriak - teriak lapar. Aku juga tak lupa bersyukur atas segala pencerahan - pencerahan dan masalah - masalah yang kuhadapi hari ini. hey...bukankah itu berarti aku masih pandai dan kuat karna bisa melalui masalah - masalah tersebut, berarti tuhan masih menganggap aku capable untuk menanganinya. Dan aku yakin...lambat laun masalah - masalah itu akan mendidik aku untuk bisa lebih bijaksana lagi dalam menentukan sikap. Aku bersyukur untuk kasih sayang mama yang selalu mengingatkan aku untuk sarapan...senyumnya yang selalu kulihat tiap pagi saat aku turun dari kamarku. Sungguh berkah yang luar biasa. 

Sekali lagi Hari ini adalah hadiah dari Tuhan untukku, karna begitu banyak hadiah - hadiah indah yang sudah selayaknya aku syukuri. Dan tiba - tiba saja aku merasa menjadi wanita paling terkaya di dunia. aku berjanji tuhan...aku tidak akan mengeluh hari ini. Karna  aku tau, semua yang terjadi padaku tidak pernah sia - sia . Semua memiliki arti masing - masing , walaupun terkadang aku terlalu terlambat mengartikan semuanya tapi aku yakin, Engkau akan menjadikan segalanya indah.

Jakarta, 27 Oktober 2009

Thanks Allah for Loving me

Thursday, October 8, 2009

she's believes in me.... By Kenny Rogers


While she lays sleeping, I stay out late at night and play my songs
And sometimes all the nights can be so long
And its good when I finally make it home, all alone
While she lays dreaming, I try to get undressed without the light
And quietly she says how was your night?
And I come to her and say, it was all right, and I hold her tight

And she believes in me, Ill never know just what she sees in me
I told her someday if she was my girl, I could change the world
With my little songs, I was wrong
But she has faith in me, and so I go on trying faithfully
And who knows maybe on some special night, if my song is right

I will find a way, find a way...

While she lays waiting, I stumble to the kitchen for a bite

Then I see my old guitar in the night
Just waiting for me like a secret friend, and theres no end
While she lays crying, I fumble with a melody or two
And Im torn between the things that I should do
And she says to wake her up when I am through,
God her love is true...

And she believes in me, Ill never know just what she sees in me
I told her someday if she was my girl, I could change the world
With my little songs, I was wrong
But she has faith in me, and so I go on trying faithfully
And who knows maybe on some special night, if my song is right
I will find a way, while she waits... while she waits for me!



Lagu ini selalu bisa bikin aku menangis bahagia atas karunia seorang suami yang begitu indah

Ternyata inilah arti dari semua perjalanan panjangku

Jakarta 9 oktober 2009

Monday, September 28, 2009

suamiku......


Hari ini pernikahan ku dengan suamiku jalan 4 bulan. memilikinya sebagai suamiku adalah hal terindah yang pernah kumiliki. dia mungkin memang bukan laki - laki dewasa.....tapi dia selalu bisa menghentikan tangisanku dengan candanya. suami ku memang bukan seorang yang kaya raya.....tapi aku tau dia telah bekerja keras dengan sekuat tenaga untuk membahagiakan aku....dan sungguh aku bersyukur atas itu.memegang tangannya yang kasar membuatku menitikkan air mata....karna tangan itu seolah bicara seberapa berat ia bekerja untuk menafkahiku.

suamiku bukanlah orang yang romantis.....namun dia selalu menganggapku spesial. dia memang bukan laki - laki yang setiap saat mengucapkan kata cinta....namun caranya merawatku dkala aku sakit....caranya menciumku setiap malam sebelum tidur. itu lebih dari sekedar romantisme picisan. Dia bukan laki - laki yang serius...yang menunjukkan wibawanya di setiap saat....namun dia hanya lelaki sederhana yang rela berkeringat membantu ayahku membetulkan mobil kami, dia cuma pria biasa yang selalu ingat membelikan oleh - oleh untuk ibuku kemanapun dia pergi. itulah suamiku.....

terlepas dari semua kekurangannya...dia memiliki begitu banyak kelebihan di mataku.... bahkan tiap kali aku mengingat kelebihannya itu tak jarang aku menangis dengan penuh rasa syukur....

Hari ini di hari dimana usia pernikahan kami hampir berjalan 4 bulan.... aku bersyukur kepadaMu ya Rabbi....atas semua rezeki ini...kasih sayang suamiku....bayi yang ada dalam rahimku...tidak ada lagi nikmat yang bisa menggantikannya.

Untuk suamiku sayang..... maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik. tapi aku akan berusaha untukmu dan untuk keluarga kecil kita.



Teruntuk My beloved Hubby
Jakarta, 29 September 2009

Tuesday, September 1, 2009

Sesalan Hati Di bulan Penuh Kasih

Ya...Rabbi
Hari ini aku tersadar
betapa telah begitu banyak nikmat yang telah Engkau berikan padaku
dan betapa sedikit yang kubagi dengan orang lain

Rabbi....
Hari ini aku seperti ditampar
sadar akan ketamakanku
sadar akan kesombonganku
dan tiba - tiba saja nanar mengingat hampir tidak ada yang pernah kubagi dengan makhluk mu yang lain

Ya Allah...
aku terlalu tamak...
aku terlalu rakus...
disaat semua telah kumiliki namun tetap saja aku meminta lebih
bahkan saat berdoa kepadamu ketamakan dan kerakusanku tak jua hilang

Ya Azza waja'alla
aku kotor.....
aku hina....
maka bagaimana mungkin engkau masih bisa mencintaiku??

Ya Rahman ....
Ya Rahim.....
aku berjanji...sejak kutulis doa ini,
kan kubagi semua yang bisa kubagi
istiqomahkan lah aku ya Ya Aziz...
agar jangan lagi hati terbuai nikmatnya dunia...


~ Si Gadis Embun ~
Jakarta 2 September 2009

Rumah Terindah.....

terima kasih untuk rumah terindah yang akan kita tempati.
terima kasih untuk memberi maaf sebelum aku meminta.
terima kasih untuk bersabar sampai karena aku tahu kalau hal-hal terbaik dalam hidup tidak memerlukan uang.
seperti bunyi suaramu yang selalu setia menuntunku pulang ke hatimu
rumahku yang terindah


tadi pagi, sebelum pergi.
dia meminta saya untuk duduk.
lalu dia berlutut dan mengatakan sesuatu.
‘maafkan, saya bukan suami yang baik. tidak ada saat kamu akan melahirkan anak pertama kita.’

mata saya langsung panas dan menangis.
‘kamu suami yang baik. saya selalu bersyukur untuk itu.’

lalu dia memeluk saya.
erat sekali.

‘doakan saya agar selamat saat melahirkan ya… doakan agar anak kita selamat dan sehat, agar nanti kalau rumah kita selesai, kita akan tinggal bertiga di sana.’
dia mengangguk dan kembali memeluk saya.
tidak lama dia lalu mendorong koper.
menuju airport.

ya, dia adalah rumah saya yang terindah.


~ Si Gadis Embun ~
Jakarta 01 September 2009

Teruntuk rumah terindahku

*taken from 9 Naga

Wednesday, August 19, 2009

My first trisemester pregnancy......


Setelah ga lama ngeblog.....ini dia gw muncul dengan perut gendut yang telah terisi seorang janin. YUp!!! I'M Pregnant.  So glad knowing that someone is alive in my belly. Suami ku dan aku memanggilnya dengan sebutan " Kaka ". it will be my first pragnant. Amazing so much!!

Gw jadi tambah maruk...walaupun sebenernya dari dulu udah maruk. Tapi ga bisa dipungkiri, gw kepengennya makaaannn terus. Tapi makannya cuma icip2 doang. well....telah begitu banyak rencana yang gw angan - anagankan untuk si " kaka". Mulai dari nama ampe cara didiknya nanti. padahal hamil gw juga baru 2 bulanan, but thats shows you that i really amazed of this pregnancy.

Gw pengen anak gw nanti cerdik, smart, dan pastinya berbudi pekerti baik. Semenjak hamil otomatis perhatian nyokap gw dan bokap gw lebih besar ke gw. Tapi ujung - ujungnya justru gw ngerasa terkekang. Ga boleh naik motor, ga boleh ini, ga boleh itu. But you know me!!! semakin dilarang....semakin menggila lah aku. ya ollo.....kasian anak  gw!!! jadi korban emaknya. jalan - jalan melulu gw setiap pulang kerja, jajan - jajan......tapi setiap ampe rumah pasti kena semprot nyokap. aku paling cuma tawa - tawa aja....

baby.....ibu ga mau kaka jadi lemah, kaka harus aktif, kaka harus jadi pemberani. Makanya mama harus memberikan contoh sama kaka..... ya kan???? dan aku juga tetap ingin jadi ibu yang funky dan tetep chic untuk baby ku. wanita karir yang pandai bekerja tapi juga  pandai mengurus anak. we'll see.....

Jakarta 20 Agustus 2009

Usia kehamilan 2 bulan menjelang 3 bulan

Untukmu sang Belahan Jiwa...........


aku ingin menyayangimu seperti bunga yang belum mekar
menyembunyikan semua keindahannya dari cahaya sang matahari
menunggu engkau yang membuka kelopaknya
dan merasakan hembusan pertama dari kembang putiknya

aku ingin menyayangimu seperti buku yang belum lagi kita buka
kupegang tanganmu, kau tuntun jari-jariku
satu per satu halamannya kita buka
satu per satu misterinya terungkap di depan kita
tak ada kisah yang terlewatkan, tak ada cerita yang tertinggalkan

aku tak tahu kapan, di mana, atau bagaimana aku jatuh cinta kepadamu
aku menyayangimu dengan sederhana, bukan tanpa masalah, tapi sungguh tanpa keangkuhan dan
dan tanpa sesuatu yang kubanggakan
setumpuk cemburu, bertahun kesal, mungkin sejumput kegembiraan dan setangkup kebahagiaan
aku menyayangimu seperti ini dan seperti ini saja
karena aku tak tahu cara yang lain untuk menyayangimu

aku berdiri di depanmu sekarang
dengan seluruh harapan kau bersedia lagi mengulang
semua keinginan yang mungkin tak sempat kita jelang

kutau mungkin terlalu cepat
terlalu terburu-buru, dan terlalu memaksakan
namun inilah yang akan kukatakan
aku menyayangimu sekarang, esok, lusa
mungkin minggu depan , entah bulan depan
atau pun tahun depan
tak ada janji yang berani kukatakan
hanya kuniatkan hati untuk menanti
jika waktu itu yang kau ingin jalani
~ Si Gadis Embun ~
Jakarta, 20 Agustus 2009

Kisah Nenek Penjual Tempe...........


Tersebutlah seorang nenek pedagang tempe. Ia hidup seorang diri dan keseharian nya ia berdagang tempe tuk kebutuhan nya sehari-hari.

Seperti biasa sebelum ia terlelap tidur ba’da shalat Isya ia membuat tempe agar dapat di jual esok pagi nya di pasar. Agar adonan kacang kedelai sempurna menjadi tempe maka harus di diamkan semalam. Setelah setelah selesai membuat adonan dan memasukannya kedalam cetakan tempe si nenek beranjak tidur, seraya berharap. “ya Allah..sempurna kanlah adonan kacang kedelai yg ku buat menjadi tempe esok pagi nya,amiin” demikian ia berdoa penuh harap..tak lama kemudian ia pun lelap dalam tidur nya.

Seperti hari sebelum nya, menjelang pukul 4 pagi sang nenek terbangun tuk bersiap shalat malam, bermunajat pada Nya, bermohon ampunan, Rahmat dan hidayah Nya. Dan ia pun masih membiarkan adonan tempe tersebut tertutup rapi dan tidak membuka nya agar sempurna menjadi tempe. Setelah mendapatkan 7 rakaat dalam witir nya adzan shubuh pun berkumandang..”assholatu khoirum minannaum…” Kemudian ia lanjutkan tuk shalat shubuh, sungguh khusyu ia larut dalam shalat nya, sesekali terdengar isakan tangis dalam surah Al qur’an yg di baca nya, teringat kan dosa yg pernah di lakuakan dan sangat kecil ia di hadapan Nya. “Qul huwallahu ahad…Allahusshomad. Lam Yalid walam yuulad,walam yaqullahu kufuwan ahad…”Allahu Akbar…tubuh renta nya bergerak rukuk dgn susah payah..hingga akhir nya ia menyelesaikan shalat shubuh nya. Kemudian berdoa…”Ya Allahu Ya Rahman..hamba Mu penuh dengan dosa,ampunilah hamba dari segala kesalahan. Ya Allah..Yg Maha Kaya, berikanlah hamba Mu ini rizki yg cukup, hari ini hamba kan berjualan tempe di pasar,jadikanlah adonan tempe yg hamba buat menjadi tempe yang baik dan sempurna sehingga di buthkan banyak orang..Ya Allah ya Ghanniyu ya Hamid..dan jadikanlah hamba Mu ini orang yg pandai bersyukur atas rizki Mu,amiin. Demikian ia berdoa penuh khusyu…”

Setelah itu ia bersiap diri tuk berangkat ke pasar..tak lupa ia melihat adonan tempe nya…”bismillahirrahnirrahimm…!” ia membuka penutup adonan tempe tersebut…”Astaghfirullah…Ya Allah…!” sungguh terkejut ia begitu melihat adonan tempe nya baru setengah jadi…”Ya Allah ada apa gerangan ini,kenapa tempe ku tidak jadi sempurna?” Tanya nya dalam hati penuh gundah. .”ah,mungkin aq membuka terlalu cepat sehingga belum jadi sempurna”,gumam nya. “lebih baik aq bergegas berangkat ke pasar karena matahari sudah mulai naik,semoga saja dalam perjalana adonan tersebut mengembang dengan sempurna”,harap nya. 

Akhir nya si nenek berangkat dg rasa cemas akan tempe nya…”bismillahitawakkaltu’alallah…” di tengah perjalann nya ia membuka kembali penutup tempe nya berharap adonan nya sdh berwujud tempe yg sempurna, dengan perlahan ia membuka nya…Masya Allah…! Ternyata masih belum jadi…”Ya Allah ada apa gerangan ini, sudah hampir pukul 6 tempe belum jadi juga, apa salah ku Ya Allah…”,jerit nya dalam hati dengan wajah cemas…”bagaimana ini, kalo tidak jadi tempe aq tidak dapat berjualan di pasar dan dagangan ku tidak laku, kalo tidak laku aq tidak bisa membeli beras agar dapat ku masak dan ku makan setiap hari?” sungguh cemas wajah nya…padahal sebentar lagi ia tiba di pasar…”ah mungkin doa ku kurang khusyu, sebaik nya aq berdoa kembali agar adonan ini menjadi tempe yg sempurna”, kemudian si nenek memejamkan matanya dan berdoa sebelum melangkah kembali..ia melantunkan ayat kursyi dan berdoa..”Ya Allah, tempe tidak jadi dengan sempurna ,ampunilah dosaku ya Allah..ku mohon pada Mu agar Engkau menjadikan adonan ini menjadi tempe sempurna agar laku ku jual dan ku belikan beras sbg kebutuhan ku sehari-hari,amiin”. Kemudian ia melanjutkan perjalanan nya ke pasar dan berniat membuka penutup tempe di pasar.

Tepat pukul 6.15 menit ia tiba di pasar..Di situ para pedagang tempe lainnya sudah siap dengan dagangannya…Setelah menyiapkan tempat ia berdagang ia membuka penutup tempe, mata nya di pejamkan dan hati nya di mantapkan penuh harap ,”semoga saja telah menjadi tempe yg sempurna, ia intip sedikit demi sedikit…dan…”Allahu Akbar…!” pekik nya…”Ya Allah…mengapa adonan tidak sempurna menjadi tempe..Ya Allah mengapa kau buat ini pada Hamba..apa salah hamba..bukankah hamba beroda dengan khusyu dan shalat subuh serta senantias berdzikir pada Mu..” hati nya mulai berkecamuk dan mempertanyakan kepada Allah..diri nya lemas…tak percaya..namun ia tetap memajang tempe setengah jadi nya..ia tak dapat berbuat apa-apa..padahal sudah banyak para pembeli di pasar tersebut..menunggu..dan menunggu..namun tempe setengah jadi pun tak terjual…ia melihat kiri-kanan teman2 seprofesi nya sudah setengah dagangan nya habis..sedangkan ia belum satupun laku. 
Wajah nya lemah..”Ya Allah bila Engaku mentakdirkan aq tidak makan hari ini aq pasrah”, ucap nya menguatkan hati yg penuh tanya pada Allah mengapa tempe nya tidak jua di takdir kan jadi dg sempurna.

Hari sudah semakin siang..pasar sudah mulai baranjak sepi..tempe setengah jadi pun tak ada yg laku satu pun…sedangkan teman nya sudah mulai ada yg merapikan dagangannya..”Ya Allah, ternyata benar,Engkau tidak menginkan aq makan hari ini…!” hatinya terbersit berburuk sangka pada Allah…wajah sedih…di mata nya mengembang air mata yg terkumpul…kemudian,tanpa disadari..buliran demi buliran jatuh satu persatu dan makin deras…ia menangis dalam diam nya..mulut nya terkunci rapat..hati nya bergejolak…di tengah runtuh nya bendungan air mata nya..ada seorang ibu2 yg sedang tergopoh-gopoh..berpindah dari satu pedangang tempe ke pedagang tempelain nya,namun ia tidak membawa sekantong tempe pun..nampak nya ia tidak menemukan yang ia cari..hingga akhir nya sang si ibu tiba di depan si nenek..”nek,ada tempe..?” dengan wajah penuh harap..dengan lemas si nenek menjawab..”nenek tidak punya tempe yang jadi dengan baik nak..semua tempe nenek semua nya setengah jadi..ke sebelah saja nak..di sana masih ada 1-2 tempe yg belum terjual..”katanya sambil menunjuk dagangan rekan nya…”apa nek..?” tempe setengah jadi ada?”,“ Alhamdulillah…akhir nya ketemu juga…!” ucap si ibu gembira.. “sayabeli tempe setengah jadi nya nek..!” …aa..aa..apa nak.? Kmu mencari tempe setengah jadi?” ujar nenek tidak percaya…”iya nek..tempe setengah jadi, ada kan..?” “kalo ada banyak ,saya beli semua tempe setengah jadi nya?”,”..ada nak..nenek ada banyak..!” akhir nya dalam sekejap dagangan si nenek habis terjual..kini air mata si nenek tak berhenti mengalir deras..bahkan beberapa kali terdengar isak nya…”Ya..Allah,sungguh Engkau maha adil..hamba Mu ini sungguh tidak tidak tahu diri menyalahkan Engkau..”,”Ampunilah hamba Mu ini yg tidak berharap pada Mu dan Ikhlas dalam menjalani ujian Mu..”
Si nenek pulang, tak hentinya bibir nya mengucapkan dzikir pada Nya sebagi tanda syukur..subhanallah...walhamdulillah...Allahu Akbar...

Ibroh/pelajaran :
1. Janganlahberburuk sangka pada ALLAH
2. Allah yg memberikan rizki dan tugas kita tuk bermohon pada Nya
3. Kita meminta dengan cara kita dan Allah memberikan nya dengan cara ALLAH
4. Dekat kan diri pada Nya..niscaya Allah akan membuka pintu rizki Nya
5. Allah lebih mengetahui kebutuhan diri kita 
6. Tetap berusaha dan bermunajat pada Nya sampai detik terakhir

Wednesday, August 5, 2009

Ummiku...


YA ALLAH, Mengapa Ummiku Sering Menangis ?

Seorang anak kecil bertanya pada Tuhannya ?
Rabbi, mengapa Ummiku menangis
Alloh menjawab,...

Karena Ummimu seorang wanita
Aku menciptakan wanita sebagai mahluk yang istimewa
Aku kuatkan bahunya untuk menyangga dunia
Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman
Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan benih manusia
Dan aku tabahkan pribadinya utnuk terus berjuang saat orang lain menyerah

Aku beri dia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya
Aku tanamkan rasa sayang yang akan meninabobokan anak-anaknya dan berbagi cerita dengan putra-putrinya yang beranjak dewasa
Aku berikan dia kekuatan untuk memikul beban keluarga tanpa mengeluh
Aku kuatkan batinya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh buah hatinya sekalipun!
Aku beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya Aku beri dia kebijaksanaan untuk mengerti bahwa suami yang baik tak kan pernah menyakitinya
Tapi kadang itu hanya ujian, apakah benar ia wanita setia

Ummimu, mahluk yang sangat kuat
Jika suatu saat kau lihat ummimu menangis
Karena aku beri dia air mata, yang bisa ia gunakan sewaktu-waktu
Untuk membasuh luka batinnya dan memberikan kekuatan yang baru

Anakku......


Anakku…

Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, maka ibu akan memilih mengandungmu?
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah Sembilan bulan nak…
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu. Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu, adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir,tangismu memecah dunia Saat itulah…saat paling membahagiakanSegala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan, Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah ditelinga mungilmu
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, maka ibu memilih menyusuimu
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…Maafkan ibu…Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

taken from puisi Ratih Sanggarwati

Sunday, August 2, 2009

BITCH......

Aku hanya ingin enyah..... dan mengenyahkan mereka......

Aku hanya ingin mengubur mereka dalam - dalam sehingga mereka hilang dari hadapanku

Aku hanya ingin membayangkan bahwa aku bisa mencincang mereka menjadi potongan - potongan kecil lalu membakarnya

Aku hanya ingin mereka mati.....tidak berada di sekitarku lagi....

Enyahlah kau bangsat..... seperti kecoa busuk yang mati karna baygon...

Enyah kau dari hadapanku.....

Karna kau tak lebih dari seorang penjilat tengik...yang selalu merasa paling pintar

Tanpa menyadari semua ketololanmu..........

Tuesday, July 28, 2009

Surat Untukmu Anak Bangsa....


ibu kehilangan anak...ada anak kehilangan orang tua.Istri kehilangan suami ataupun sebaliknya. Skenario siapakah semua ini? Kenapa sih kita ga bisa saling menyayangi satu sama lain. Pernah ga sih kita berfikir bagaimana kalau yang kita zalimi itu adalah saudara kita sendiri. Teror ....apapun bentuknya, bila menghilangkan nyawa orang lain sama sekali tidak di benarkan. Mengapa kalian para teroris begitu murahnya menghargai nyawa manusia. bukankah agama manapun mengajarkan kasih dan sayang kepada sesama makhluk tuhan, jangan kan kepada sesama manusia kepada hewan dan tumbuhan pun kita harus perlakukan dengan layak. Lalu kemana fungsimu wahai umat muslim????? bukankah engkau di turunkan ke muka bumi ini sebagai khalifah, yang di tugaskan melestarikan bumi tempat kita berpijak ini?? apakah ada Tuhanmu memerintahkan mu untuk mencelakai manusia lain????

Lihat ibunda maruto di TV, betapa sedihnya sseorang ibu yang kehilangan anak yang telah lama di besarkannya. Betapa rindu sang ibu berjumpa dengan sang putra. Apakah kalian tidak tersentuh wahai teroris???? aku saja yang tidak mengenalnya serta merta menangis.... membayangkan andaikan itu menimpa adik ataupun saudaraku.  Bukankah kalian mengklaim bahwa kalian berjihad??? kenapa tidak kalian utamakan berjihad untuk keluarga??? bukankah banyak cara untuk berjihad??? bukan dengan BOM. tidakkah kalian pikirkan orang tua yang kehilangan putra-putra terbaiknya?? anak-anak yang kehilangan ayah mereka?? Dimana hati nurani kalian??Kalian ingin masuk surga.... tapi apa tuhan rela melihat nyawa dari hamba nya direnggut paksa oleh kalian??? ingat kalian bukan tuhan, yang berhak atas nyawa umatnya. Dimana akal kalian??? 

Rabbi....sadarkan lah mereka. Keluarkan mereka dari kebodohan yang tidak mereka sadari. Kembalikan putra - putra itu kepelukan sang ibunda, aku wanita ya Rabb....aku tahu benar sakitnya kehilangan seorang putra. Rabbi....apakah mungkin karna menipisnya sikap nasionalis bangsa kami??? sehingga semuanya berjalan sendiri- sendiri, sehingga tidak ada lagi rasa kasih mengasihani sesama bangsa. Apapun agamamu...bukankah saat pahlawan - pahlawan kita memperjuangkan indonesia, mereka terdiri dari berbagai suku dan agama?? Bersatulah Indonesiaku.... Jangan pernah mempermasalahkan agama apapun kalian. kita berada di satu kesatuan Indonesia, yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata bangsa. 

~* Perempuan yang bangga menjadi Perempuan indonesia *~

Jakarta 29 Juli 2009

Monday, July 27, 2009

Dying Friends....Doaku untuk Sachi...


Membaca kisah hidup seorang teman di Wordpress, membuat aku kmbali bersyukur.Ya Rabbi...ternyata aku begitu beruntung, kau berikan aku keluarga yang menyayangi aku.... Mama dan papa yang selalu ada untukku. Kau berikan aku rezeki, kau berika aku suami yang insyallah menyayangiku hingga akhir hayat. Kau memberikan aku kesehatan. Lalu betapa picik nya aku ya Rabbi....Jika masih saja terus mengeluh atas semua kekurangan yang kumiliki.

temanku itu , seorang gadis tanpa ibu dan ayah yang tidak menyayanginya. Belum lagi sel kanker yang mneggerogoti tubuh kecilnya. Merasakan sakit setiap habis kemotherapi. Ya Allah...apa ini??? Mengapa aku berubah menjadi begitu piciknya?? Mengapa tidak satupun dari sekian banyaknya rahmatMu ini aku syukuri. Rabbi...ampuni aku.

Teman...siapapun namamu, dan dimanapun kini kau berada.Terima kasih sudah membuka mataku. Semoga Engkau diberikan tempat terindah di sisi Rabb mu.

Petikan Cinta Di KCB


Cinta adalah kekuatan…
yang mampu mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur.
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi hibah.
itulah cinta…..

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

meskipun lidahku telah mampu menguraikan, namun tanpa lidah cinta ternyata lebih keram, sementara pena begitu tergesa-gesa menulisaknnya.

kata-kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada cinta, dalam menguraikan cinta akal terbaring tak berdaya bagaikan keledai terbaring dalam lumpur. cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.

Monday, July 13, 2009

Zaman Hedonis.....

mengapa orang selalu beranggapan bahwa dengan belajar otak bisa menjadi bebal??? Aku tidak mengerti. Bukannya justru ada sebuah rasa bahagia saat kita belajar. Saat kita mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui. Bukankah zaman nabi dulu hanya orang - orang kafir yang pergi berplesir???? Kenapa sepertinya sekarang ini terbalik. Orang yang gemar menuntut ilmu malah dibilang aneh, sedangkan orang yang gemar melakukakan kesia - sian dengan hang out atau sekedar nongkrong malah dianggap baik. Sebenarnya apa yang telah terjadi, apakah telah terjadi pergeseran nilai moralisasi atau apa???

Wednesday, July 8, 2009

Keinginanku untuk berlibur......

Aku punya keinginan, entah mengapa aku begitu ingin pergi berlibur kebali. Panoramanya yang begitu sering aku baca dan lihat di internet, membuat rasa ini semakin kuat. Bali memang bukan daerah yang jauh. Bali hanya sebuah pulau kecil yang masih termasuk wilayah indonesia.  Tapi entah mengapa aku begitu ingin berlibur ditempat ini. merasakan damainya memandang sudut kintamani 

Merasakan henbusan angin di tepian danau... Bertafakur mengagumi keindahan ciptaanMu. Melihat hamparan karpet hijau milik sang alam di dataran tinggi UBUD. Berkunjung keistana Ubud dan mengenal peradaban sejarah disana. 

Sungguh.....Betapa aku menginginkan itu.  Berjalan di saat matahari terbenam diindahnya pantai Kuta, dan sekali lagi aku yakin ku hanya bisa berbisik" Subhanallah..."atas keindahan ciptaanMu.

Rabbi.....Berikanlah aku rezeki, agar aku bisa mengunjungi tempat dimana ukiran dari keagunganMu sungguh tampak begitu jelas.

~* Si Gadis Embun *~

Jakarta 9 Juli 2009

Saat aku begitu merindukan Bali

Aku ingin Suamiku Menangis untukku...........


Pernah aku baca di sebuah majalah rohani, seorang istri dari suaminya (ya iya lah !) sedang pergi ke suatu tempat dengan menggunakan taxi. Di dalam taxi, wanita itu berinisiatif mengajak pak sopir mengobrol.

“Sudah berapa tahun nyopir taxi, Pak?”, tanyanya.

“Lumayan lama, Bu. Ini kira-kira sudah 7 tahun-an.”, jawab Pak Sopir nya.

“Wah lama juga ya. Bapak asli sini?”

—————– nih kalo diceritain detail bakal panjang deh, aku fastforward yah…

“Istri Bapak disini kerja juga?”

“Istri saya sudah meninggal, Bu. Sejak saya mulai kerja jadi sopir taxi. Kena kanker kandungan.”

Wanita tadi jadi terdiam, bingung mo ngelanjutin obrolannya. Yang membuatnya semakin termenung, kemudian…

“Istri saya itu orangnya baik banget, sayang ma keluarga, …… “, Pak Sopir melanjutkan tiba-tiba. Tapi kemudian dia terdiam dan jadi sesenggukan. Ternyata Bapak itu sedang menangis. “…seorang istri solehah buat saya, Bu.”, beliau menambahkan di sela ketermenungannya.

Wanita itu jadi ikut sedih juga jadinya, tapi yang bikin dia sangat terharu adalah :

‘Bapak itu kehilangan istri sudah 7 tahun lamanya. Tapi, begitu ia menceritakan 1 kalimat tentang istrinya, pada orang yang tidak begitu dikenalnya, ia menangis.’

Begitu dalam perasaan Pak Sopir taxi itu kepada istrinya. 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, untuk melupakan kepergian seseorang. Tapi ia masih menitikkan air mata saat ingat mendiang istrinya. Bagaimana besarnya pengabdian istri tersebut kepada keluarga, sehingga menimbulkan kesedihan yang demikian? Pastinya seorang istri yang sayang dan disayangi keluarga.

Wanita itu membatin dalam hatinya, “Ya Allah, salahkah aku? Dosakah aku? Kalo aku berharap suamiku menangis dikala nanti mengenangku yang telah pergi mendahuluinya. Semoga aku bisa menjadi istri yang seperti itu.”


Banyak orang bilang bahwa aku terlalu memanjakan suamiku. Benarkah itu??? sesungguhnya aku hanya ingin berikan yang terbaik untuknya. Selagi aku masih mampu. Selagi aku masih meiliki tenaga untuk melayaninya. Aku mencintai suamiku karnaMu ya Rabbi.Aku hanya ingin berbakti penuh pada suamiku. Jikalau itu salah dan aku memanjakannya.Jikalau karna itu dia berpaling dariku dan merepotkan aku. Sungguh aku Ikhlas dengan semua yang telah kuperbuat untuknya. Karna untukku, Dialahlaki -laki terbaik yang telah Tuhankupilihkan untuk mendampingiku.

Semoga aku bisa menjadi seperti istri bapak supir itu, Dicintai hingga saat ajal menjemputku kelak, dia akan menangisi ketidak beradaanku disisinya.

~* Si Gadis Embun *~
Jakarta, 9 Juli 2009