Thursday, August 14, 2008

my last day in singapore for this year

hmm.....semalem farewell party di secret recipies...kuenyaaaangggg nyaaa minta ampun.
i think i'm gonna miss my day here. miss my friends, siti, maryana, emi, cik kam, isk, pak mat, semuanyaaaaa.

hiks... kok tiba - tiba berasa sedih yah harus pulang ke jakarta!!!
aku benar - benar diberkahi. diberikan tempat tinggal yang nyaman, orang - orang yang sangat baik dan tulus menyayangiku. entahlah....aku benar benar penuh akan rasa syukur. Allah benar benar menjagaku dinegara ini.

andai saja nenekku masih hidup, dia pasti senang. aku telah mewujudkan impiannya. bukan cuma 1 kali bahkan 3 kali.

nenek.....kalau aja nenek masih hidup, icha mau nenek lihat icha sekarang.

hiks.... jadi sedih!!!!

i love you granny

* Singapore, 15 August 2008
ditulis saat hati sedang bercampur aduk

Monday, August 11, 2008

Sebuah catatan dari D tentang perpisahan dia dengan Marcel.
Menarik !Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindarimanusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itumelengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisadipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yangjelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film "Earth" dimana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannyadengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisaberubahindah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadapkekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yangberlari,manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian.

Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agarbisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuanghabis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematiandan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siapmenjemput,jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti. Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kitaanggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya.

Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena diaselingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belumjodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa.

Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalamalirankehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain)menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab,tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihatvirusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanyakarenaefek yang terlihat lebih mudah dijelaskan.

Alasan sesederhana "memang sudah waktunya" dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kamimerasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama.Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efekapayang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yangkadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titikperpisahan.Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani denganberbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya,hinggakami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik,denganpengertian, dengan kesadaran.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya.Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cumabisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisabertemudengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahanpunsama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada "di tangankita",tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisadirasakan.Namun seringkali konsep "memaafkan" yang kita kehendaki adalah kemampuanuntuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan.

Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinyasendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, "memaafkan" tidaklahidentikdengan "pengembalian situasi ke kondisi semula". Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell,dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini.Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kamisebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga padaujungnyajadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istriyang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah.Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisamerasakanwadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akanmeneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya danMarcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang "pas". Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami,melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan,dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung,kenapaorang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya.Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya:kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia.Satu buku yang sangat terkenal, "Celestine's Prophecy", juga bicarasoalini. Kita harus "penuh" dulu sebelum bisa "memenuhi" orang lain. Cintabukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah,seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan,dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukanporsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidakbertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya padaseoranganak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyakorang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat,bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalahbusur yang akan melesat sendiri satu saat nanti.

Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan sayadengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalampernikahan,tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasakecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apayang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yangkerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anakbernama Keenan dan "hatinya yang terkoyak karena keegoisanayah-bundanya" , seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapimereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatuuntuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatukarena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dankebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia,maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah,agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama.Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, jugamenjadikeinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah merekasemuadari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinyasendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal.Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian.Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglahyang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukandurian-sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Sayatidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikirdemikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUHyang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun ataskebahagiaa nnya.Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya,Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata,dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yangkemudianberargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas,kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih,sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep "kecuali".Selama beberapa hari terakhir

*** Diambil dari blog "d" yes..."d" I trully believe in faith ***