terkadang bila melihat sosok tua di pinggir jalan yang masih saja berjuang bekerja untuk menghidupi keluarganya, tak terasa menangis aku, terbayang ayah dan ibu ku dirumah.
terbayang bagaimana perjuangan papaku, melawan arus dan ombak demi memberikan keehidupan yang layak bagi kami anak - anaknya
terbayang bagaimana dukungan mama demi memberikan konsep diri yang baik bagi kami ke 4 putra putrinya.Sejak kecil aku tidak pernah mendengar mamaku berkata " Tidak Bisa" kami semua dididik untuk selalu berani mencoba hal hal baru. terlebih aku sebagai anak pertama. ketika masa pubertas di mana kelakuanku semakin liar, bolos sekolah, memakai uang sekolah buat kesenanganku sampai aku dihujat oleh teman2 yang lain. Mama selalu berdiri paling depan, bukan untuk membela kesalahanku, melainkan untuk mendampingiku mengakui semua kesalahan yang telah aku perbuat, aku ingat kata kata itu " semua manusia pernah berbuat salah dan keliru, dengan mengakuinya bukan berarti nilai kita lebih rendah dari orang lain, bukan berarti kita tak bisa memperbaiki kekeliruan itu"
Mama selalu punya cara untuk mendukungku, cara yang kadang orang lain nilai terlalu kejam karna melihat akulah satu satunya anak perempuan di keluarga. anak yang seharusnya dimanja dan dilimpahi segala kemewahan. Tapi itu tidak berlaku untuk mamaku. Aku dan mama pernah dengan susah payah mengangkat mesin cuci bekas untuk kami jual dipasar, padahal saat itu papaku telah bekerja menjadi seorang pelaut. Tapi mama tidak pernah membiarkanku bermalas malasan. bahkan setelah bekerja menjadi seorang karyawanpun, aku terbiasa mencuci baju ku dan baju adik2ku sendiri. memasak sebelum aku pergi ke kantor. pernah suatu hari teman kantorku berkunjung kerumah, melihat aku mencuci baju dan memasak sebelum ke kantor. dia berkata alangkah kejamnya mamaku, anak perempuan satu2nya dibiarkan bekerja seperti itu. aku hanya tersenyum
Kini, setelah aku menikah
semua yang mama lakukan padaku tidak ada satupun yang terbuang percuma. aku bisa memasak seenak masakannya dimana teman2ku yang lain tidak, bahkan suamiku lebih menyukai masakanku ketimbang jajan diluar, aku bisa mengurus rumah tangga, aku jadi pribadi mandiri yang mampu berdiri tegak.
bahkan ketika saat - saat terpahit dalam hidupku, ketika aku berada di ICU demi melahirkan anak pertamaku. mama tidak pernah berhenti menyemangatiku, diantara suara2 alat alat kedokteran yang terdengar bising, sayup2 tak henti mama membisikkan kepadaku" icha pasti kuat, icha anak mama, icha pasti kuat" itulah satu2nya penyemangat hidupku di saat dokter berkata fungsi jantungku hanya tinggal 20 %, disaat semuanya hampir saja berakhir. suara mama itulah yang membangunkan semangatku bahwa aku harus sembuh aku harus sehat, aku belum bisa membayar semua yang telah mama berikan padaku.
Mama dan papa adalah segalanya bagiku, bahkan saat mungkin nanti aku terlahir kembali, aku tidak ingin memiliki orang tua lain, aku hanya ingin mama dan papa yang menjadi orang tuaku. karna mereka adalah orang tua terhebat di dunia...
