Wednesday, October 26, 2011

Long lasting love....



Pada hari pernikahanku, aku menggendong istriku. Mobil pengantin

berhenti di depan apartment kami. Teman-teman memaksaku menggendong

istriku keluar dari mobil. Lalu aku menggendongnya ke rumah kami. Dia

tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang kuat

dan bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Kami memiliki seorang anak, aku

bekerja sebagai pengusaha dan berusaha menghasilkan uang lebih. Ketika

aset-aset perusahaan meningkat, kasih sayang diantara aku dan istriku

seperti mulai menurun. Istriku seorang pegawai pemerintah. Setiap pagi

kami pergi bersama dan pulang hampir di waktu yang bersamaan. Anak kami

bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan pernikahan kami terlihat sangat

bahagia, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh

oleh perubahan-perubahan yang tak terduga.

Lalu Jane datang ke dalam kehidupanku. Hari itu hari yang cerah. Aku

berdiri di balkon yang luas. Jane memelukku dari belakang. Sekali lagi

hatiku seperti terbenam di dalam cintanya. Apartment ini aku belikan

untuknya. Lalu Jane berkata, "Kau adalah laki-laki yang pandai memikat

wanita." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan ku pada istriku. Ketika

kami baru menikah, istriku berkata "Laki-laki sepertimu, ketika sukses

nanti, akan memikat banyak wanita." Memikirkan hal ini, aku menjadi

ragu-ragu. Aku tahu, aku telah mengkhianati istriku.Aku menyampingkan

tangan Jane dan berkata, "Kamu perlu memilih beberapa furnitur, ok? Ada

yang perlu aku lakukan di perusahaan." Dia terlihat tidak senang, karena

aku telah berjanji akan menemaninya melihat-lihat furnitur. Sesaat,

pikiran untuk bercerai menjadi semakin jelas walaupun sebelumnya tampak

mustahil. Bagaimanapun juga, akan sulit untuk mengatakannya pada

istriku. Tidak peduli selembut apapun aku mengatakannya, dia akan sangat

terluka. Sejujurnya, dia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam,

dia selalu sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk di depan televisi.

Makan malam akan segera tersedia. Kemudian kami menonton TV bersama. Hal

ini sebelumnya merupakan hiburan bagiku.

Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, "Kalau misalnya

kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menatapku beberapa saat

tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seorang yang percaya bahwa

perceraian tidak akan datang padanya. Aku tidak bisa membayangkan

bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini.

Ketika istriku datang ke kantorku, Jane langsung pegi keluar. Hampir

semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan mencoba

menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya.

Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum dengan lembut

kepada bawahan-bawahanku. Tapi aku melihat ada perasaan luka dimatanya.

Sekali lagi, Jane berkata padaku, "Sayang, ceraikan dia, ok? Lalu kita

akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa ragu-ragu

lagi. Ketika aku pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan

malam. Aku menggemgam tangannya dan berkata, "Ada yang ingin aku

bicarakan."Dia kemudian duduk dan makan dalam diam. Lagi, aku melihat

perasaan luka dari matanya. Tiba-tiba aku tidak bisa membuka mulutku.

Tapi aku harus tetap mengatakan ini pada istriku. Aku ingin bercerai.

Aku memulai

pembicaraan dengan tenang.

Dia seperti tidak terganggu dengan kata-kataku, sebaliknya malah

bertanya dengan lembut, "Kenapa?" Aku menghindari pertanyaannya. Hal ini

membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan berteriak padaku, "Kamu bukan

seorang pria!" Malam itu, kami tidak saling bicara. Dia menangis. Aku

tahu, dia ingin mencari tahu apa yang sedang

terjadi di dalam pernikahan kami. Tapi aku sulit memberikannya jawaban

yang memuaskan, bahwa hatiku telah memilih Jane. Aku tidak mencintainya

lagi. Aku hanya mengasihaninya! Dengan perasaan bersalah, aku membuat

perjanjian perceraian yang menyatakan bahwa istriku bisa memiliki rumah

kami, mobil kami dan 30% aset perusahaanku.

Dia melirik surat itu dan kemudian merobek-robeknya. Wanita yang telah

menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku telah menjadi seorang yang asing

bagiku. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu, daya dan

tenaganya tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah aku katakan

karena aku sangat mencintai Jane. Akhirnya istriku

menangis dengan keras di depanku, yang telah aku perkirakan sebelumnya.

Bagiku, tangisannya adalah semacam pelepasan. Pikiran tentang perceraian

yang telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan, sekarang

menjadi tampak tegas dan jelas.

Hari berikutnya, aku pulang terlambat dan melihat istriku menulis

sesuatu di meja makan. Aku tidak makan malam, tapi langsung tidur dan

tertidur dengan cepat karena telah seharian bersama Jane. Ketika aku

terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku tidak mempedulikannya dan

langsung kembali tidur. Paginya, dia menyerahkan syarat perceraiannya:

Dia tidak menginginkan apapun dariku, hanya menginginkan perhatian

selama sebulan sebelum perceraian. Dia meminta dalam 1 bulan itu kami

berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin. Alasannya sederhana : Anak

kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan itu, dan dia tidak mau

mengacaukan anak kami dengan perceraian

kami. Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia meminta satu lagi,

dia memintaku untuk meingat bagaimana menggendongnya ketika aku

membawanya ke kamar pengantin, di hari pernikahan kami. Dia memintanya

selama 1 bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar kami,

ke pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia gila. Aku menerima

permintaannya yang aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir

kebersamaan kami lebih mudah diterima olehnya. Aku memberi tahu Jane

tentang syarat perceraian dari istriku. Dia tertawa keras dan berpikir

bahwa hal itu berlebihan. "Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap

menghadapi perceraian!" , kata Jane, dengan nada menghina.

Istriku dan aku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak keinginan

untuk bercerai mulai terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku menggendongnya

di hari pertama, kami berdua tampak canggung. Anak kami tepuk tangan di

belakang kami. Katanya, "Papa menggendong mama!" Kata-katanya membuat ku

merasa terluka. Dari kamar ke ruang tamu, lalu ke pintu depan, aku

berjalan sejauh 10 meter, dengan dirinya dipelukanku. Dia menutup mata

dan berbisik padaku, "Jangan bilang anak kita mengenai perceraian ini."

Aku mengangguk, merasa sedih. Aku menurunkannya di depan pintu. Dia

pergi untuk menunggu bus untuk bekerja. Aku sendiri naik mobil ke

kantor.

Hari kedua, kami berdua lebih mudah bertindak. Dia bersandar di dadaku.

Aku bisa mencium wangi dari pakaiannya. Aku tersadar, sudah lama aku

tidak sungguh-sungguh memperhatikan wanita ini. Aku sadar dia sudah

tidak muda lagi, ada garis halus di wajahnya, rambutnya memutih.

Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat aku terheran, apa yang

telah aku lakukan padanya.

Hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku merasa rasa kedekatan

seperti kembali lagi. Wanita ini adalah seorang yang telah memberikan 10

tahun kehidupannya padaku. Hari kelima dan keenam, aku sadar rasa

kedekatan kami semakin bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Jane.

Seiring berjalannya waktu semakin mudah menggendongnya. Mungkin karena

aku rajin berolahraga membuatku semakin kuat.

Satu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin kenakan. Dia

mencoba beberpa pakaian tapi tidak menemukan yang pas. Kemudian dia

menghela nafas, "Pakaianku semua jadi besar." Tiba-tiba aku tersadar

bahwa dia telah menjadi sangat kurus. Ini lah alasan aku bisa

menggendongnya dengan mudah. Tiba-tiba aku terpukul. Dia telah memendam

rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku

menyentuh kepalanya. Anak kami datang saat itu dan berkata, "Pa, sudah

waktunya menggendong mama keluar." Bagi anak kami, melihat ayahnya

menggendong ibunya keluar telah menjadi arti penting dalam hidupnya.

Istriku melambai pada anakku untuk mendekat dan memeluknya erat. Aku

mengalihkan wajahku karena takut aku akan berubah pikiran pada saat

terakhir. Kemudian aku menggendong istriku, jalan dari kamar, ke ruang

tamu, ke pintu depan.

Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan

erat, seperti ketika hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang

ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya,

sulit sekali bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah.

Aku menggendongnya dengan erat dan berkata, "Aku tidak memperhatikan

kalau selama ini kita kurang kedekatan."

Aku pergi ke kantor, keluar cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya.Aku

takut, penundaan apapun akan mengubah pikiranku. Aku jalan keatas, Jane

membuka pintu dan aku berkata padanya, "Maaf, Jane, aku tidak mau

perceraian." Dia menatapku, dengan heran menyentuh keningku. "Kamu

demam?", tanyanya. Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Maaf,

Jane, aku bilang, aku tidak akan bercerai." Kehidupan pernikahanku

selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku tidak menilai

segala detail kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai.

Sekarang aku sadar, sejak aku menggendongnya ke rumahku di hari

pernikahan kami, aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan

kami.

Jane seperti tiba-tiba tersadar. Dia menamparku keras kemudian

membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.

Di toko bunga, ketika aku berkendara pulang, aku memesan satu buket

bunga untuk istriku. Penjual menanyakan padaku apa yang ingin aku tulis

di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, aku akan menggendongmu setiap

pagi sampai maut memisahkan kita.

Sore itu, aku sampai rumah, dengan bunga di tanganku, senyum di wajahku,

aku berlari ke kamar atas, hanya untuk menemukan istriku terbaring di

tempat tidur - meninggal. Istriku telah melawan kanker selama

berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Jane sampai tidak

memperhatikannya. Dia tahu dia akan segera meninggal, dan dia ingin

menyelamatku dari reaksi negatif apapun dari anak kami, seandainya kami

jadi bercerai. -- Setidaknya, di mata anak kami --- aku adalah suami

yang penyayang.

Hal-hal kecil di dalam kehidupanmu adalah yang paling penting dalam

suatu hubungan. Bukan rumah besar, mobil, properti atau uang di bank.

Semua ini menunjang kebahagian tapi tidak bisa memberikan kebahagian itu

sendiri. Jadi, carilah waktu untuk menjadi teman bagi pasanganmu, dan

lakukan hal-hal yang kecil bersama-sama untuk membangun kedekatan itu.

Miliki pernikahan yang sungguh-sungguh dan bahagia.