
Kematian...
Semua pasti mengenal kata itu. Tapi sebenarnya mengapa manusia harus mati??? Aku kembali teringat sewaktu menyaksikan almarhumah neneku tersayang sedang sakaratul maut. Betapa wajah itu masih kuingat. ah...aku jadi sedih!!! Wajah yang aku tau seumur hidupnya penuh dengan masa lalu yang begitu menyedihkan. Lahir dari rahim seorang ibu bernama "Rabi'ah" dan ayah bernama" Marzuki" kehidupan beliau tidaklah mudah. Ayah yang tukang kawin membuatnya tumbuh tanpa kasih sayang ayah. perceraian yang terjadi antara kedua orang tuanya membuat icah kecil seolah - olah jauh dari kedua saudara kandungnya yang ikut bersama sang ayah. Icah kecil tinggal dengan sang nenek dan ibundanya, nenek kamsiyah begitu menyayangi icah kecil. Karna keadaan pada saat itu sangat sulit, nenek pernah bercerita padaku bahwa untuk bersekolah dia harus berjualan kue keliling. Tapi satu yang kupelajari dari icha kecil, Nenekku itu tidak pernah mengeluh.
Saat Menikah dengan kakekku pun , nenek menimbulkan kontroversi. Karna pernikahan kakek-nenekku adalah "kawin lari", mungkin itulah jodoh. Sebelum berkenalan dengan kakekku konon nenek sudah memiliki tunangan yang mapan. Tapi ternyata nenek lebih memilih kakekku untuk menjadi pendamping hidupnya.Yah itulah hidup, kadang kita tidak punya kuasa atas segala hal. semuanya adalah skenario tuhan.
Awal menikah menjadi penyesuain yang terlalu berat untuk nenekku, kerjaan kakek yang berpindah-pindah membuat nenek harus bejuang memutar otak agar uang belanja yang kakekku berikan bisa mencukupi kebutuhan sehari - hari. Oh ya...Kakekku pernah menjadi supir lintas. Sering sekali nenekku mendapat laporan yang tidak baik mengenai perilaku dan kelakuan kakekku diluaran. Tapi nenekku selalu memegang prinsipnya yang hingga kini ditanamkan ke anak cucunya termasuk aku. Suatu hari nenek pernah menasihatiku sesaat setelah beliau menceritakan bagaimana perilaku dan kehidupan rumah tangganya dengan kakekku. " Nanti kalau icha sudah menikah, apapun kelakuan suami kita diluaran apapun omongan orang soal perilaku suami kita diluaran, diam kan saja. Dari rumah ke dalam itulah suami kita tapi dari pagar keluar itu bukan lagi suami kita. " Mungkin prinsip itulah yang membuat nenek bisa bertahan hingga 48 tahun perkawinan bersama kakekku.
Dalam mengarungi rumah tangga, Kehidupan nenek bukan sekali dua kali diterpa cobaan.Mulai dari kakek ku yang berselingkuh, saudara-saudara kandung yang selalu meremehkannya, hingga perbuatan asusila anak laki-laki pertamanya yaitu om ku, yang mengharuskannya menjadi seorang bapak pada saat kuliah tingkat 1.
Perilaku kakekku yang diktator yang merupakan ciri khas orang batak dalam memimpin keluarga membuat nenek ku terlalu takut untuk mengeluarkan pendapat, Oleh sebab itulah saat kakekku menjodohkan ibuku dengan ayahku yang jarak usianya begitu jauh ( 10 Tahun) nenek hanya bisa pasrah dan berusaha meyakinkan ibuku bahwa inilah yang terbaik, dan ibuku yang tumbuh dikeluarga otoriter, sekali lagi hanya bisa pasrah dan mencoba untuk menerima semuanya .Aku tau kalau saja bisa pasti saat itu nenek akan lebih memilih menyekolahkan ibuku dari pada menikahkannya. Tapi well... sekali lagi Thats God Choice. Kalau pernikahan itu tidak ada mungkin aku tidak akan terlahir dan blog ini tidak akan pernah ada.
Setelah ibuku menikah, sedikit beban nenek mulai menghilang. Aku tau dibalik perilaku tegas dan kerasnya kepada ibuku, nenek punya banyak doa dan kasih dalam hatinya untuk ibuku. Ibuku mulai membantu perekonomian nenek. Hidup pada saat itu begitu membahagiakan bagi nenekku, nenek pernah bilang saat terbahagia dalam hidupnya adalah ketika aku lahir kedunia...yaa...aku...cucu pertamanya. Karna itulah nenek yang megasuhku waktu akukecil,aku yang terlahir dengan kaki cacat( LETTER O) tidak menyurutkan kasih dan sayang nenek untukku. Tiap malam nenek menurut kakiku. Hingga akhirnya kakaiku kembali normal bahaka tidak ada orang yang tau bahwa dulu kakiku cacat. Tuhan ....memang Maha Baik, Diamengirimkan aku ke rahim ibuku untuk mejadi cucu seorang Faizah, kalau tidak ada nenek saat itu entah bagaimana sekarang kakiku, pasti aku akan menjadi bahan cemoohan orang. Aku ingat betul betapa bahagianya aku setiap sore, karna setiap sore itu nenek pasti akan memandikan aku. Akulebih suka dimandikan oleh nenek ketimbang oleh ibuku. Karna entah mengapa, ada sebuah ikatan yang aku tak tau apa itu, yang membuatku begitu nyaman berada disamping nenek.
Aku tau betul sebesar apa kasih dan sayang nenek untukku, nenek yang selalu memasakkan sarapan untukku. Yang selalu membelaku disaat ibu memarahi aku. nenek yang selalu siap sedia mendengarkan keluhan dan gumaman-gumaman konyolku. Nenek lah yang membuatku merasa begitu dicintai. Aku ingat betapa tekunnya ia mengepang rambutku sehabis mandi. setelah itu dia pasti langsung memberikan aku jajan. aku ingat betul dia sering bertanya " Icha dah jajan belum???" dan aku pasti menjawab" udah sih nek,tapi icha mau beli itu" dan nenek langsung memberikan aku uang tambahan.
Cobaan Kembali Menerpa nenek, Disaat Anak perempuan Kelimanya kabur karna laki-laki. Saat itu nenek begitu hancur, aku lihat nenek menangis disela -sela sujudnya. Anak Gadis yang dia sayangi, yang seharusnya menjadi kebanggan keluarga tapi malah kabur dengan laki -laki. nenek dan ibuku begitu terpukul, terlebih lagi saat itu aku ingat sekitar tahun 1995nenek tengah menunaikan ibadah haji, ibuku berusaha menutupi semuanya dari nenek.namun saat ia kembalike tanah air, kembali nenek harus menelan pil pahit dalam kehidupannya. Akhirnya karna banyak pertimbangan nenek pun menikahkan bibiku itu dengan laki -laki pilihannya.
Saat bibi-bibiku menikah dan memiliki anak. Aku dan neneklah yang mengurus bayi- bayi mereka. Nenek mengajarkan aku bagaimana memandikan bayi, bagaimana memakaikan popok, gurita,dan bedong. Neneklah yang mengajarkan aku untuk mencintai dan menyayangi adik - adikku. nenek mengajarkan aku untuk berbelas kasih kepada siapa saja, persis seperti dia. Dulu....Dulu sekali saat aku masih kecil, nenek sering menampung para perantau2 yang tidak memiliki tempat tinggal. Nenek ajak mereka tinggal dirumahnya dan dicarikan kerja oleh kakekku. Aku juga ingat betul, bagaimana nenek memanggil dan mempersilahkan seorang pengemis tua yang buta untuk masuk, Saat itu aku begitu takut. Tapi nenek bilang " tidak usah takut, lekas ambilkan makanan dibelakang...." aku pun mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayurnya. Lalu pengemis itu dipersilahkan untuk makan. nenek begitu enjoy dan tampak menikmati bercakap - cakap dengan pengemis buta itu. aku pun heran. tapi yang pasti semenjak hari itu, tiap hari pengemis itu datang kerumah untuk makan siang. dan nenek dengan senang hati melayaninya. hari itu Aku belajar bahwa kebahagian itu bisa terus ada bila kita membaginya dengan orang yang membutuhkan.
Hari ini, nenek telah tiada. Sudah 3 Tahun Lebih nenek berpulang. Aku yakin saat ini dia telah menemukan kebahagian yang sejati, kebahagian yang tidak terusik oleh perilaku anak- anaknya. Aku bersyukur nenek telah berpulang, karna kalaulah beliau masih hidup pasti beliau akan kecewa melihat keadaan anak- anaknya sekarang. Putra-putrinya yang semula terlihat begitu meyayangi kini semuanya berubah, kakekku yang kini seorang diri pun tidak dapat terurus. kadang aku sering meminta kepada ibuku,bagaimana kalau kakek tinggal bersama kami.Tapi setiap akukemukakan ide itu kepada kakek, pasti kakek menolaknya. Beliau tidak mau beranjak dari rumah kenangannya. ya.... rumah kenangan dimana dulu....dia pernah menjadi orang terkuat di dalamnya, rumah dimana dengan keringatnya dia membesarkan dan menafkahi anak - anak yang sekarang menelantarkannya. Rumah dimana dia benar - benar merasa bahagia hidup dengan nenekku.
Kini setelah 3 tahun nenekku pergi, kakekku terus mencari pengganti, tapi setiap dia menemukan wanita lain dia selalu mundur karna dia sadar baginya tidak ada wanita yang secantik dan seindah nenekku.
Nenek.....miss you so much
~* Si Gadis Embun *~
Jakarta 7 Juli 2009
Disaat Rindu Terhadapmu begitu dalam