Sunday, May 31, 2009

Undangan Pernikahan Icha & Roby





Dear All Teman - teman

berikut adalah undangan pernikahanku yang akan dilaksakanan pada:

Hari         : Sabtu

Tanggal  : 13 Juni 2009

Pukul      : 13.00 s/d 19.00

Bertempat : Jl. Swasembada Barat 12 No.54 Rt.011 Rw.013

                       Kebon Bawang, Tanjung Priok

Dimohon kehadirannya yah, jangan sampai ga dateng

Best regards

Icha & Roby

Thursday, May 28, 2009

TaubatKu di Sisi Rabbku


Rabbi....
Pantaskah aku mendapatkan rahmatMu
disaat hati sering kali mengharapkan bantuan pada zat yang lain

Rabbi....
Pantaskah aku menerima rasa kasih mu
disaat seringkali aku bertindak tanpa rasa kasih kepada saudaraku sendiri

Rabbi....
Pantaskah aku mendapatkan rezeki dariMu
disaat semua rezeki itu malah membuatku semakin angkuh dan takabur
merasa bahwa semua ku peroleh karna usahaku sendiri tanpa ada engkau di dalamnya

Rabbi... Ya Rabbul Izzati
Pantaskah aku merasakan indahnya cintaMu
disaat aku begitu mengagungkan cinta terhadap makhlukMu
yang kutahu semua itu semu
mengharap dan mengejar cintanya dengan menggadaikan iman dan tubuhku

Rabbi....
Masih Pantaskah aku di sebut HambaMu???
dengan semua keburukan dan ke zaliman yang telah kuperbuat
Dengan semua dusta dan kufur hati bahkan maksiat yang telah kulakukan?

Masihkah engkau mencintaiku???
dengan semua amarah dan ego yang kutahu merusak hati
dengan hati yang kerap kali terkotori oleh dengki dan dendam

Masihkah engkau mau menerimaku kembali Ya Rabbul Izzati???
Karna saat ini....
aku benar- benar telah merasa cukup
aku benar - benar merasa muak dengan diriku sendiri

Allah....
Masihkah engkau mau merangkulku kembali??
karna sungguh aku merindukkan kedamaian hati dalam indahnya dekapMu
karna sungguh aku benar - benar merindukkan tangisan sesal diujung sajadah
ketika malam datang
dan sungguh betapa aku rindu damainya hati saat mata terpejam dan terlelap lelah

Allah....
masihkah engkau memberiku kesempatan??
untuk merasakan lagi damainya hati ketika wajah kantukku terusap oleh segarnya airMu
aku rindu terbangun di saat semua makhluk mu terlelap Ya Illah.

Rabbul Izzati....Pantaskah aku???
~* SI Gadis Embun *~
Jakarta 28 Mei 2009
Disaat aku tersadar bahwa hidup sungguhlah semu

Kisah Seorang Ikwanul Sejati

Dia Mencium Bau Surga



Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya... diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah."

Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

Seorang Doktor bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta'ala.

Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat." (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.

Ia melanjutkan kisahnya,
"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.



Subhanalllah ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta ... kisah belum selesai...

Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?

Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."

Aku katakan, "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya-red)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fhushilat:30- 32)

Wednesday, May 27, 2009

Kuntum Cinta SuamiKu...


"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...

Diambil dari kisah seorang teman
 
~* Si Gadis Embun *~
teruntuk lelaki surgaku, semua yang telah kau berikan untukku telah lebih dari cukup
Jakarta 28 Mei 2009

untuk para suami

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

WallahuAlam.

Kisah Si Gadis Buta


Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!

~* Untuk Lelaki Surgaku  *~

Terima kasih untuk semua bahagia yang telah kau berikan

Jakarta, 28 mei 2009

Tuesday, May 26, 2009

Aku ingin Anakku menirumu....Ya Rasul

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!" Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku." Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati...

Sang Ibu tersenyum dan menjawab... Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya....

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ...

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah... � Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu...

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya...

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan...

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...

....setelah itu, ia kembali bertanya...

" Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?"

Sang Ibu memberinya buku dan berkata.... "Pelajari tenteng dia..." ia pun mengambil buku itu

"MUHAMMAD", judul buku yang tertulis di buku itu

* Putraku, bukanlah seperti bill gates atau seperti barack obama kuingin kau menjadi.....aku hanya ingin kelak kau menjadi sosok sederhana seperti " Muhammad" karna dia lah sebaik - baiknya suri tauladan.

~* Si Gadis Embun *~
teruntuk putraku yang belum terlahirkan
doa ibumu ini...akan selalu menyertai mu

Doaku untuk suamiku

Duhai suamiku...
Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.

Suamiku.....
Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, "Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, "Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka." Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, "Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?" Ali r.a. pun menjawab, "Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya." Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, "Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian." Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Suamiku...
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, "Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya." [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini...
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal alamin.

Ya rozzaQ

Setelah melahirkan saya memutuskan tidak bekerja. Kondisi di rumah tidak memungkinkan untuk memiliki pengasuh. Lagipula saya sangat ingin merawat sendiri putri kami bernama Sariyya-yang sekarang sudah berusia 3 tahun. Saya tidak mau kehilangan momen berharga perkembangan Sariyya yang tidak bisa diulang. Saya juga ingat pesan almarhumah ibu saya agar saya merawat sendiri anak-anak saya.



Waktu berjalan, hari-hari melelahkan mengasuh, memberi makan, menemani main putri kami saya nikmati. Saya merasa, pekerjaan di kantor dulu yang menguras otak tidak ada apa-apanya dibandingkan merawat seorang titipan Allah. Saya bersyukur meninggalkan pekerjaan. Secara materi kehidupan saya sedikit berubah. Saya tidak mampu membeli pakaian atau tas-tas yang bagus seperti dulu. Tapi rasa kebahagiaan berbaju bagus tidak ada nilainya dengan kegembiraan saya melihat putri saya makan dengan lahap, menyanyi dengan lucu atau loncat-loncat di tempat tidur. Saya menikmati kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga.

Tiba-tiba saja suami saya terkena PHK. Tapi saya menghadapi dengan santai. Saya yakin rezeki untuk kami tidak akan putus. Karena bukan perusahaan suami saya yang memberi kami makan. Allah-lah yang memberi kami rezeki. Saya memang sedikit bingung. Tabungan menipis. Mertua menyuruh saya kembali bekerja. Saya menolak. Suami melarang. Saya katakan kepada suami, mari kita berdoa, minta rezeki kepada Allah.

Pada keadaan ekomomi morat marit saya ingat pesan Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara. Menurut beliau, kalau kita sedang bingung menghadapi masalah yang masih tanda tanya besar, banyak-banyaklah membaca Yaa Sin. Bukan Surat Yaa Sin. Tapi zikir membaca Qur'an. Hanya satu ayat saja. Yaa Siin. Yaa Sin adalah sebuah ayat yang menyimpan rahasia. Begitu pula dengan rahasia kehidupan kita. Itu sebabnya saya laksanakan zikir Yaa Sin, sebanyak-banyaknya.

Setelah membaca Yaa Sin, saya juga teringat guru saya, DR. Nana Sumarna, yang mengatakan, mintalah semua yang kita inginkan kepada Allah yang memiliki 99 sifat. Jika butuh rezeki, panggilah Allah dengan sifat-Nya Yang Memberi Rezeki (Yaa Rozzaq). Jika butuh jodoh, panggilah Allah dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih (Yaa Rohman), sandingkan dengan jodohnya (Yaa Rohiim). Zikir Yaa Rohman Yaa Rohiim adalah yang saya baca ba'da sholat subuh ketika saya masih belum menemukan jodoh. Saya mengikuti nasihat Prof. Mansyur dan Pak Nana. Keduanya mengingatkan, bukankah Allah sendiri yang menganjurkan kita untuk berbuat demikian. "... Serulah Allah atau serulah Ar Rohman, dengan nama-nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai al asmaul husna..." (QS:17, ayat 110).

Saya laksanakan zikir Yaa Rozzaq setelah bertahajjud. Pertama kali melakukannya, entah kenapa, saya membacanya sebanyak 2000 kali. Yaa Rozzaq! Demikian mulut saya terus menyebut nama-Nya. Besoknya saya lakukan hal yang sama. Perasaan saya sangat yakin. Allah akan mendengar panggilan saya. Beberapa waktu kemudian, seorang teman yang bekerja di sebuah penerbit buku terkenal di Bandung menelpon saya. Dia meminta saya untuk menulis sebuah buku. Saya terperanjat. Oh, inilah rezeki untuk saya. Katanya, "Tapi kamu kerja di rumah aja ya...!" Alhamdulillah, lagi-lagi saya bersyukur dalam hati. Saya diberi pekerjaan, tapi tidak harus meninggalkan putri saya yang sedang lucu-lucunya. Itulah yang saya harapkan, itulah yang saya ucapkan dalam doa-doa saya. Allah mengabulkan semuanya.

Seminggu kemudian saya dipanggil ke kantornya untuk menandatangani Surat Perjanjian Kerja. Saya datang bersama suami dan anak saya. Ketika teman saya menyodorkan surat tersebut, saya terperanjat membaca angka rupiah yang tertera dengan jelas. Rp2.000.000,-. Itu honornya. "Ini kan baru permulaan", kata teman saya. Ingatan saya tiba-tiba melayang kepada zikir Yaa Rozzaq yang pernah saya lakukan. Saya membaca 2000 kali nama-Nya. Allah memberi saya 2 juta rupiah. Apakah ini hanya kebetulan belaka? Selesai menulis buku tersebut, tampaknya teman saya merasa puas. Ia langsung menugaskan saya menulis satu buku lagi. Kembali saya diberi upah 2 juta rupiah-nilai yang kecil mungkin untuk seorang penulis, tapi bagi saya terasa luar biasa nikmat. Begitulah, saya yakin, honor 2 juta rupiah berturut-turut dari hasil saya menulis buku ada hubungannya dengan zikir Yaa Rozzaq 2000 kali berturut-turut yang saya lakukan. Itu sebabnya saya semangat untuk berzikir lagi. Saya ingin membuktikan bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Zikir Yaa Rozzaq saya tambah. Lebih dari 2000 kali.

Beberapa waktu kemudian. Saya dihubungi penerbit tersebut dan diberi kenaikan honor, pas seperti jumlah zikir saya. Nilainya... rahasia doong! Alhamdulillah! Sekarang saya ditugaskan lagi menulis buku baru. Begitulah, kalau yang kita minta tolong adalah Allah, hasilnya memang sangat menakjubkan. Dia tidak pernah mengecewakan. Dia memenuhi janji-Nya. Terimakasih Yaa Rozzaq. Engkaulah Sebaik-baik Pemberi Rezeki.

~* Si Gadis Embun *~
Karna Dia sebaik - baik pemberi rezeki

Monday, May 25, 2009

mimpi si gadis embun..............


aku ingin....berkeliling dunia
melintasi gundukan cakrawala yang menentangku ganas

melihat bulan dari tiap - tiap langit yang berbeda

merasakan hembusan angin yang sejatinya mendamaikan jiwa


aku ingin......berkeliling dunia

merasakan lezatnya masakan dari berbagai rempah dan bumbu
mempelajari sejarah- sejarah dunia yang mungkin telah lama tidak diperdengarkan
berjalan dan berlari di tikungan yang berbeda di tiap harinya


Aku ingin....berkeliling dunia

melihat wujud penciptaan Tuhan dari bentuk dan sisi yang berbeda

bertemu dengan wajah - wajah baru, dan budaya baru

dan mensyukuri semua ciptaannya hingga mengharu biru


aku ingin .....keluar dari toples kecil bernama "jakarta'

aku ingin berada dalam toples lain....

dengan berbagai bentuk dan ragam

baik kah atau burukkah....


aku ingin .....berkeliling dunia

gar hati bisa merasakan puasnya

agar badan tahu merasakan lelahnya
agar jiwa mengerti bahwa semuanya....

tidak akan pernah sama....


~* Gadis Embun *~
Masih di Jakarta 26 Mei 2009

16 Hari menjelang pernikahanku....

Sunday, May 24, 2009

Ayah.....


Kau tampak lusuh dan berdebu

Ruat-ruat garis hitam merona kelopak matamu

Ku tahu kau lelah ayah…..

Saat senja kau duduk termenung menatap jalanan

Yang selalu menghantarkan keping pemberi kehidupan

Ketika kantuk menyerang kau tetap tegar

Ku tahu kau lelah ayah

Malu aku menawarkan ranjang yang tersisa

Atau mengantar diri terlelap lebih awal

Tiap malam beserta doa kuberharap

“Tuhan murahkan rejeki ayahku

Jagakan sehatnya, jauhkan darinya mara bahaya

Dan jika nanti Kau meminangnya kembali

Tempatkanlah ia disisi-Mu”


~* Teruntuk Papaku Tersayang terima kasih untuk semua kebahagian yang telah kau penuhi *~
Jakarta, 25 Mei 2009

Friday, May 22, 2009

aku ingin menciummu.......


Aku ingin mencium mu
dalam........
ditengah rengkuhan mentari yang telah siap beranjak malam

aku ingin menciummu
hangat ....dan lembut
seperti halnya secangkir kopi manis yang menghangatkan tubuh ketika hujan datang

aku ingin menciummu
sambil memejamkan kedua mataku...
merasakan tubuhmu dalam tubuhku..
hingga damai merasuk kedalam bilik hati...
hingga aku tertidur dan bermimpi indah tentang ciuman itu

aku ingin menciummu....
ketika pertama kali kau membuka mata dipagi hari....
hingga terakhir kali kau membuka mata indahmu....

bila saat itu tiba...
aku akan tetap tersenyum mengantarmu ke tempat yang jauh
dengan senyum....
yah....dengan senyum....
karna aku ingat benar
betapa indahnya hidup bersamamu
betapa indahnya ciuman itu....


~* Untuk Lelaki Surgaku izinkan aku untuk terus mendampingimu *~
Jakarta 23 Mei 2009

Firasat Dari Langit....


gelap.....
langit disamping jendelaku berjelaga.....
dia tampak gelap....kehitaman

kosong....
hanya itu yang dapat ku tangkap...
hitamnya memayungi rumah - rumah kecil kami.....
belakangan ia begitu sering datang???

pertandakah.....???


~* Si Gadis Embun *~
Jakarta 22 Mei 2009

Thursday, May 21, 2009

Perempuan




Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga
adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.........


~* Dari Film AADC *~
Jakarta, 25 Juni 2009

Takbir Cinta Kita.....

Kini...
Air Wudhu yang membasuhku
Bercampur dengan air wudhumu
Untuk kemudian bersaksi pada Nya
bahwa kita bersatu
Dalam naungan Cinta-Nya

Kini...
Takbirku yang menggema
Di sambut takbirmu yang membahana rupa
Untuk kemudian menjura
Menjemput sua dalam selaksa Cinta
Membingkai asa dalam kurun tak bermasa

Kini...
Ruku yang terbalut rindu
Melumerkan ikrar
Yang telah lama tersimpan beku

Menyematkan deru rasa
Menyembuhkan deru luka
Menyampaikan pesan Cinta
Hanya pada Mu

Kini...
Pasrahku dalam sujud
Ditemani keningmu yang meremang lembut
Menyamuderakan janji yang menjumput
dalam rentang waktu yang kian runut

Kini...
Dibelakang sajadahku
Ada sajadahmu
Dalam Do'aku
Ada kau mengaminiku
Dalam Hidupku
Ada nafasmu
Dalam detak jantungku
Ada kau mengalir syahdu
Karena Cinta telah terbina
Dalam legalitas atas ridho Nya

~* Dari Lelaki Surgaku *~

Monday, May 18, 2009

anonymous....


-----  Ragu itu bahasa akal -----

-----  Padahal cinta itu bahasa hati -----

-----  Begitu cinta ditimbang - timbang dengan akal  -----

-----  Maka cinta akan kehilangan sejatinya sebagai perasaan  -----

~~* Si Gadis Embun *~~

Jakarta 19 Mei 2009

Jika kau bertanya......


Bila Kamu bertanya, mengapa kini aku membumi.....
itu karna aku tlah sadar tak dapat menjadi awanmu....
memayungi riakan langkah dan sampan di sungaimu
dekatkan telingan dan hatimu,maka kau akan mendengar gemericik air di bumiku
itulah air mataku........

Bila tiba - tiba saja kamu tersadar
mengapa bathinmu tak lagi kerap mendengar " sapaku..."
itu karena aku telah menjelma menjadi " udara "
kosong........
hampa........
tak dapat kau lihat........rasa dan dengar...
walaupun sesungguhnya aku ada disekelilingmu...
ada dihadapanmu....menyentuh jemarimu
bahkan.....mendengar hembusan nafasmu

aku menjadi "malam" itu karna "siang"seringkali menyiksaku...
mata yang terjaga dan terus mengingatmu, hampir setiap saat membunuhku
malam datang....aku terbunuh!! itulah saat terlega dan paling menenangkan
siang datang kembali ku tersiksa, sampaimalam tiba diperaduan

Dan bila saja kau tiada merindu....
coba dengarkan syair ini...
aku bahagia...tlah sempat berusaha menjadi awanmu ,
walaupun akhirnya ditakdirkan menjadi bumi
ku bahagia,tlah sempat menangis dan menjadi udara
ku bahagia, tlah sempat mencintaimu yang teramat istimewa
ku bahagia, tlah dapat merelakan kamu, yang tersayang........pergi mencari jiwa yang paling kau cinta.....


~* Si Gadis Embun.... *~
untuk seseorang di masa lalu ( terima kasih untuk semua rasa )
Jakarta 19 Mei 2009

Thursday, May 14, 2009

Cinta dari lelaki surga.......


Kemarin.....
dia berkata padaku bahwa cinta yang selama ini kumiliki terkhianati......
kemarin.....
dia berkata padaku bahwa cinta yang kumiliki masih sering menghubunginya dan meminta mintanya kembali....
aku terdiam.....
sesaat berusaha mencerna dengan otak dangkalku
belum selesai aku berfikir dan mencerna
dia berkata lagi.....
bahwa cinta yang kumiliki melakukannya beberapa bulan lalu

aku semakin terpuruk.....
kosong....
hampa....
merasa hina dan tak berarti.....
dalamnya hanya ada tanya " benarkah?...."

Masih Terdiam dalam perih...l
sesaat semuanya memburam
namun saat hati sudah menemukan titik dinginnya
aku memberanikan diri bertanya pada sang cinta

" Cinta...Benarkah bahwa aku bukan lagi hati tempat kau bernaung?"
" Cinta...Benarkah bahwa kau telah menemukan lagi hati lain yang jauh lebih indah sebagai tempat mu berlabuh"

Cinta tidak menjawab....dia menatapku dengan senyumnya
tiba- tiba terasa hangat menyelimuti hati luka ku...
dan ajaib!!! hatiku sembuh...tidak terasa lagi sakit itu
entah pergi kemana sakit itu

Cinta merangkulku.....ku pejamkan mataku seraya mengecup kening dan mataku
cinta ... aku tahu sekarang....mungkin disana banyak pelabuhan - pelabuhan lain yang lebih indah, tapi bukan indah yang kau butuhkan, sebab cinta tak pernah membutuhkan apapun....
Baginya cukup hanya " aku " saja

~* Untuk Lelaki Surgaku *~
Terima kasih sudah memilihku
Jakarta, 15 Mei 2009

Wednesday, May 13, 2009

aku dan nenek tua....


Hari ini di emperan itu aku melihatnya....
nenek tua dengan pakaian lusuh dan jilbab lusuh
kulihat ia sedang terduduk layu dipinggiran trotoar....
sedang apa dia ya? tanya itu tiba- tiba hadir di benakku
apa dia tidak memiliki keluarga sehingga terlantar seperti itu??

nenek tua itu tersenyum padaku....
aku pun balas tersenyum....
tiba - tiba ada yang sakit didalam dada.....
tiba- tiba rasa iba ini dengan segera berubah menjadi titik air mata...

Rabbi....apa yang bisa aku berikan padanya???
namun pikiran itu datang ketika aku sudah terlalu jauh berjalan
dan ego ku menang!!! aku tidak berbalik arah kembali padanya.

Rabbi....aku membiarkan nenek tua itu sendirian disana
rutinitasku sebagai buruh kantoran mengalahkan kata hati ku yang saat ini sedang menangis
menangisi kebodohan dan kesombonganku

Rabbi....izinkan aku agar esok datang
aku bisa lebih mempercayai hati.

~* Putri Mendung *~
Jakarta,13 Mei 2009


Tuesday, May 12, 2009

Indahnya cinta Ibu.....

”Bapak kenal, anak yang suka pakai topi polisi yang markirin mobil di sekitar sekolah Bapak?”

“ Ya, kenapa, Bu?”

“Itu putra pertama saya. Ipin namanya”.

Terbayang oleh saya seorang anak lelaki tanggung yang setiap hari mangkal di area parkir sekolah tempat saya mengajar. Saya tahu anak itu selalu memakai topi polisi, memakai seragam satpam dan mondar-mandir mengatur setiap kali ada kendaraan keluar masuk sekolah. Di tambah sedikit kesan, bahwa anak itu agak “lain” dari umumnya kita. Hanya itu. Tapi kali ini saya baru mengenalnya utuh dari ibunya.

Saya menemukan pembuktian lagi bahwa kasih ibu memang sepanjang jalan. Tidak pernah habis rasanya menggali dan menemukan keutulusan hati seorang wanita-ibu kepada anaknya bagaimanapun keadaan anaknya itu. Seorang ibu rela merasakan teriknya matahari, asalkan anaknya tetap teduh. Rela berbasah-basah kuyup, asalkan anaknya tetap kering. Ibu rela menahan lapar dan dahaga, asalkan anaknya kenyang dan terpuaskan hausnya. Bahkan seorang ibu tidak ragu menukarkan nyawanya saat melahirkan, asalkan anaknya mengecap kehidupan.

Ibu menjelma demikian karena ia adalah madrasah yang dibangunnya di atas dasar nilai ruhani yang paling kokoh yaitu rahim; kasih sayang. Rahim ibu hanya satu dari berjuta-juta rahim milik manusia karunia Allah, dan hanya seorang ibu yang paling memahami eksistensi rahim kepada buah hatinya. Dengan kasat mata, bahwa hanya dalam dekapan ibunya, seorang anak dapat tidur pulas dengan nyaman dan terpuaskan emosinya.

Hanya seorang ibu yang paling mengerti, rengekan dan tangisan buah hatinya, justru di saat orang lain tengah dibuai mimpi indah memuaskan kantuknya. Saat orang lain lebih suka memilih bentakkan dan gemerutuk gigi kemarahan, ibu lebih memilih sapaan lembut dan senyum dikulum mengingatkan kesalahan buah hatinya.

Dan satunya-satunya orang yang dengan rahimnya, rela menghisap cairan yang menyumbat hidung anaknya saat flu dan pilek, hanyalah ibu. Pantaslah kalau Abul Qasim sampai menegaskan, ” Ibumu ... Ibumu ... Ibumu, lalu bapakmu”.

Bagaimana dengan ibu yang kejam, yang meninggalkan anaknya sendiri dalam ketakutan ? Atau dengan sengaja membuangnya di tepi jalan dalam keadaan hidup atau telah kaku membiru setelah digugurkan ? Apakah tidak ada rahim di dalam dirinya ?

Bukan. Mereka bukanlah ibu. Mereka hanya wanita biasa yang dengan alasan tertentu mencampakkan sementara naluri keibuannya. Mereka bukanlah seperti ibu Musa as. yang menghanyutkan bayinya di sungai karena perintah wahyu untuk menyelamatkan bayinya. Bahkan ibu Musa as., pada akhirnya mendapatkan keleluasaan menumpahkan rahimnya setelah bayinya dilarung. Wanita yang memutus rahim pada anaknya hanyalah pengecualian atas ibu Musa as. Malahan dengan cerita itu, rahim ibu semakin cemerlang. Semakin jelasnya putih di antara hitam. Semakin dapat dibedakan wujud mutiara di antara klereng.

”Putra saya itu mengalami keterlambatan perkembangan sejak usia satu setengah tahun. Dia pernah kejang-kejang. Saya bawa ke rumah sakit. Dokter bilang, ada bagian dari syarafnya yang putus. Sejak itu, Ipin sangat lambat. Pada usia lima tahun saja, anak itu belum bisa bicara. Hingga hari ini usianya 21 tahun masih sering orang meledeknya. Memanggil Ipin bloon, idiot atau sebutan lain yang memiriskan hati saya. Bagi Ipin mungkin tak masalah karena ia ngga ngerti. Tapi, ... saya remukredam”.

Ipin sering ”dikerjai” orang, tukang ojek atau orang yang sekedar iseng. Bagi sebagian tukang ojek nakal di sekitar area parkir, Ipin adalah ladang uang. Caranya: ajak Ipin keliling-keliling. Ipin senang. Kembali ke pangkalan. Ipin diturunkan dan disuruh bayar 5000. Ipin tetap senang dan membayar akal-akalan tukang ojek itu. Tapi, semaik Ipin ”dikerjai” uangnya ga pernah habis. Bahkan begitu mudahnya ia mendapatkan uang dari orang yang mungkin saja ”iba” dengan kegigihan aktivitasnya sebagai ”satpam” tanpa kantor atau juru parkir tanpa status itu.

Atau sewaktu-waktu dua atau tiga orang tukang ojek itu mengajaknya ke warteg untuk ngopi dan merokok. Ipin tetap senang dan membayari kopi dan rokok itu hanya karena mereka mengacungkan jempol, tepukan di bahunya dan kata-kata,” Makasih, Bos”.

Kali ini ada senyum diwajahnya saat cerita Ipin ditipu.Tiga kali Ipin dibelikan sepeda, tiga kali pula ditipu sepedanya.

”Ipin, mana sepedanya”.

”Ada orang pinjem, Mah. Ipin tunggu sampai magrib, ngga datang-datang lagi orangnya”.

”Ipin kenal engga orangnya”?

”Engga”.

Saya terpingkal, sedih dan nlangsa dalam diam. Keculasan masih ada di mana-mana. Begitu rakusnya sebagian kecil orang, keterbatasan orang lain dijadikan umpan mata kail untuk memenuhi ”tembolok”nya. Sampai kapan kita akan tetap menemukan kejanggalan tata nilai?

Saya hanyut mengikuti kisah Ibunya Ipin di sela-sela melaksanakan tugas negara di hari ketiga. Mengawas hari itu menjadi tidak lagi tegang dan membosankan. Saya tanyakan kepadanya, apakah menyesal atas nasib yang dialami anaknya itu. Dijawabnya dengan sangat tegas; tidak. Menurutnya, Ipin membawa guratan nasibnya sendiri dan ibunya hanyalah bagian kecil dari hidupnya. Tetapi yang pasti bagi dirinya, Ipin adalah anak dari dan untuk seluruh hidupnya.

Ia sudah tidak lagi ingat berapa uang yang telah dihabiskan untuk pengobatan Ipin. Sudah berapa rumah sakit, dokter syaraf, psikiater atau alternatif yang telah ia kunjungi untuk kesembuhan anaknya itu. Sampai saat ini, ia masih tetap mencari di mana lagi tempat penghobatan yang memberinya harapan kesembuhan anaknya.

Entah sudah berapa porsi hidupnya untuk Ipin yang diceritakannya. Tetapi ada satu yang paling liat, saat Ipin hilang di penghujung tahun 1999 di bulan Ramadhan. Betapa gigihnya ia mencari anaknya setiap hari selepas Shubuh dan kembali sampai di rumahnya tepat saat waktu berbuka tiba.

”Pengalaman mencari Ipin saat itu tidak ingin saya lupakan. Saya akan tetap menyimpannya sampai batas akhir hidup saya. Bayangkan Pak, saya tidak merasakan lelah mencarinya selama hampir 15 jam seharian sambil puasa, full sebulan puasa. Ini ni yang bikin saya gagal menjawabnya, setiap hari ada saja orang komplek yang menitipkan uang untuk ongkos saya. Banyak di antara mereka bahkan saya tidak kenal”.

Meskipun akhirnya ia tidak menemukan anaknya sendiri dalam pencarian, akhirnya Ipin kembali ke rumah seminggu setelah lebaran tahun 2000. Ada orang yang menyampaikan khabar bahwa Ipin ada di stasiun Klender. Pada kisah bagian ini kelihatan ada titik air mata di kedua sudut matanya.

Mungkin mengingat kondisi anaknya yang sedemikan menderita saat dijemput di stasiun itu. Ipin Kotor, kurus, pucat, sakit, apalagi aroma yang tidak sedap dari tubuhnya. Namun tak urung, ia tetap memeluk anaknya. Didekapnya dengan kasih dan ditangisinya sesenggukan.

Selepas mendengar kisah ibunya Ipin, penghormatan saya terhadap para ibu akan saya lipatgandakan. Sampai sebegitu ya seorang ibu, menggema di dalam hati. Sejurus saya teringat sekian banyak orang. Terutama kedua orang tua, isteri dan anak-anak. Mengingat orang tua jadi ingin segera mencium tangannya. Mohon ampun dan ridhonya lalu meminta berkahnya.

Mengingat isteri, betapa rapuhnya saya sebagai lelaki yang mungkin tidak seteguh mentalnya mengasuh anak-anak. Sebagai ayah saya bersyukur diberikan anak yang sehat dan berharap dapat memelihara dan mendidiknya dari segala keburukan. Wahai Rabb Yang Pengasih dan Penyayang, hamba sandarkan semua asa dan harapan itu kepada-Mu.



Ciputat, 1 Mei 2009

Taken from www.eramuslim.com

Sunday, May 10, 2009


Apa Kau dengar suara hujan diluar???

Indah...deras...bergoyang- goyang ditiup sang angin..

hari ini bukan minggu terakhir desember
ataupun bukan minggu pertama januari

tapi mengapa ia turun dengan begitu derasnya

indah....deras...bergoyang - goyang ditiup sang angin

harum tanah menyeruk ke paruparu
ah... Tuhan adakah yang lebih indah
dari harumnya tanah ketika hujan membasahinya....

Adakah yang lebih indah...
saat melihat bulir - bulirnya jatuh dari langit membasahi kekeringan dan tandus
adakah yang lebih indah.....
saat suaranya yang bersynergy dengan angin bertiup sepoi....
menimbulkan suara - suara yang mendamaikan hati....

Hujan...
Terima kasih sudah datang,
membasahi debu -debu jalanan yang kerap kali masuk ke mataku
terima kasih sudah berbagi damaimu ...
terima kasih sudah mebuatku bahagia dengan merasakan bulir indahmu....

~* Chaliciouz Chubby *~
Jakarta11 Mei 2009
Ketika hujan deras membasahi sisi jendela kantorku

Murungnya Sang kekar...........


Senin indah dengan awan bergantung yang kehitaman
Riak riak air bergemiricik menandakan bahwa langit kembali menangisi kepergian sang mentari

Adakah yang kau rindukan...tanya sang burung kepada awan??
mengapa kau menangis...tanya nya lagi

sang awan hanya terdiam bisu dengan wajah kekarnya yang memuram

Adakah yang membuatmu sedih....tanya angin yang sementara melewatinya
adakah yang menyakitimu......tanyanya lagi

namun si hitam itu tetap membisu....
mereka semua terheran, mengapa awan yang terbiasa menaungi indahnya pagi berubah menjadi sosok yang menjemukan

Saat semua sedang bertanya didalam pikiran-pikiran mereka
sang awan melenggang pergi sambil berbisik
" adakah yang lebih menyakitkan dan menyedihkan dari rasa kehilangan....."
lalu mereka semua terdiam terpaku
hanya bisa menatap nanar pada sang kekar


~* Sang pencari cinta *~
Jakarta 11 mei 2009

Friday, May 8, 2009

Rindu......


Rindu...........
Rindu itu berbau harum seperti uap nasi yang menguar dari padi hasil keringat petani penggarap yang luluh letih didera terik matahari dan lantak berkubang hutang kepada tukang ijon dan menumbuk hutang demi hutang dari panen ke panen berikutnya.

Rindu itu sehalus kening bayi yang baru dilahirkan berlapis lilin dan dicium lembut oleh ibunya. Perempuan yang telah diremuk redam kejang dua hari dua malam dan ditengok jalan lahirnya setiap jam oleh jari kasar suster yang sibuk merencanakan cuti serta ditunggui oleh suami yang asik menonton sepak bola.

Rindu itu adalah guguran daun yang telah tunaikan hijaunya, ditiup angin dari pegunungan, dan merengkuh tanah yang dicintainya. Untuk melengkapi hara kembali, menjadi rahim bagi biji dan melahirkan bunga berikutnya.

Rindu itu adalah menunggu. Melihat awan-awan berarak di kejauhan, berharap lewat di tempat seseorang.
Rindu itu Gemuruh yang menyadarkan awan dari kegalauannya sehingga turunlah hujan.
~* Did U hear the sound of the rain?  *~
Jakarta, 8 Mei 2009

mencintai angin harus menjadi siut
...........
mencintai air harus menjadi ricik
...........
mencintai gunung harus menjadi terjal
...........
mencintai api harus menjadi jilat
...........
mencintai cakrawala harus menebas jarak
...........
mencintai-Mu harus menjelma aku


~* Dariku untukmu wahai pemilik hati *~

Senandung Rindu


Senandung rindu

kukibaskan hujan malam ini.
kemudian sekelebat sunyi menggangguku.
aku diam.
tak bergerak.
menunggu angin antarkan kau pulang.

sejurus mata memandang sayu
setengah kantuk kuhitung rindu
kulihat bintang yang selalu satu.
mana dirimu?

kurebahkan diri pada kursi kayu itu.
yang selalu tersenyum melihat kau datang
namun kini ia terbujur beku
dingin dan kaku

kembali padaku laksamana,
kita kembalikan derai canda yang tersapu badai
kita naikan gemuruh cinta yang terhempas buih
kita pancangkan janji
kita sudahi penantian ini

namun hanya denting malam yang menjawab isakku.
dan sepucuk surat serta karangan bunga dari pusaramu, laksamanaku
~* Sapardi Djoko Damono *~
Di tengah mendung menggelantung dilangit bisuku

Hujan Bulan Juni



tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

~* Sapardi Djoko Damono *~
Jakarta, 8 mei 2009

Thursday, May 7, 2009




Ya allah........
apakah Kau ada di sana??
apakah kau melihatku???
apakah kau merasakan gundah yang kini melanda jiwa?

Tuhan......
Kau tau aku menyukai kesempurnaan........
tapi apa ada wujud sempurna di dunia ini??
Haruskan...gundahku ini terus menggerogoti segala ketidak sempurnaan yang kualami

Rabbul Izzajati...........
Tambahkan keikhlasanku
agar aku percaya segala ketidak sempurnaan ini
bisa menjadi sempurna dengan rasa syukur ku terhadapMu

Rabbi...
Ampuni aku yang dhaif ini...

~* Sang Pencari Cinta *~
Jakarta, 8 May 2009


Sebeeeelll...........



Menyebalkaaaaannn...rasanya ingin sekali aku berteriak. KONSEP dekorasi untuk acara pernikahan ku di curi orang!!! tau ga kalian siapa yang mencurinya??? tetanggaku!!! si MEGA menyebalkan itu. cucunya bu darmo. rasany ingin menagis, gondok, kecewa, takut semua bercampur menjadi satu. aku bingung... tidak mungkin aku mekai konsep yang sama seperti si mega itu,kalau bukan 1 gang mungkin ga terlalu jadi masalah. Tapi ini kan 1 gang!!! dan teman2 ku juga diundang oleh mereka... ARRRGHHH!!!! gondoookkkk!!!! SETENGAH MAMPUZ.

aku harus memutar otak bagaimana menyiasatinya, aku pun langsung bertanyapada mbah gugel. dan akhirnya aku putuskan,aku akan mengganti konsep warnanya menjadi seperti diatasmerah maroon ungu muda dan gold!!!fiuuuhhh....doakan aku ya semoga vendornya punya warna beginian. amieeeen!!!

Wednesday, May 6, 2009

Surat dari suamiku

Cintailah Aku Apa Adanya

Karya : Chicken Soup



tentang-pernikahan.com - Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Hujan Di bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu


Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


[Sapardi Djoko Damono]

Puisi soe hok gie

Akhirnya… semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa…

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui…

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu…

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.


kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi…

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin…


Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu…?

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.


Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi…

kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara…

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita


Apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu…

kita begitu berbeda dalam semua…,

kecuali dalam cinta

Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram…

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu…


Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru…


~*Soe Hok Gie*~

[Selasa, 1 April 1969]

lembah mandalawangi............

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah…
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza…
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu…
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi…


Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang…
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra…
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku…
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya…
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu…

Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…

*Soe Hok Gie*
[Selasa, 11 November 1969]

untuk suamiku............

Pandanglah yang masih sempat ada…
Pandanglah aku: sebelum susut dari Suasana…
Sebelum pohon-pohon di luar tinggal suara…
Terpantul si dinding-dinding gua…
Pandang dengan cinta…

Meski segala pun sepi tandanya waktu kau bertanya-tanya,

Bertahan setia langit mengekalkan warna birunya…
Bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata…


~Sapardi Djoko Damono*~


Mata Jendela,

Kumpulan Sajak

1967