
Rindu...........
Rindu itu berbau harum seperti uap nasi yang menguar dari padi hasil keringat petani penggarap yang luluh letih didera terik matahari dan lantak berkubang hutang kepada tukang ijon dan menumbuk hutang demi hutang dari panen ke panen berikutnya.
Rindu itu sehalus kening bayi yang baru dilahirkan berlapis lilin dan dicium lembut oleh ibunya. Perempuan yang telah diremuk redam kejang dua hari dua malam dan ditengok jalan lahirnya setiap jam oleh jari kasar suster yang sibuk merencanakan cuti serta ditunggui oleh suami yang asik menonton sepak bola.
Rindu itu adalah guguran daun yang telah tunaikan hijaunya, ditiup angin dari pegunungan, dan merengkuh tanah yang dicintainya. Untuk melengkapi hara kembali, menjadi rahim bagi biji dan melahirkan bunga berikutnya.
Rindu itu adalah menunggu. Melihat awan-awan berarak di kejauhan, berharap lewat di tempat seseorang.
Rindu itu sehalus kening bayi yang baru dilahirkan berlapis lilin dan dicium lembut oleh ibunya. Perempuan yang telah diremuk redam kejang dua hari dua malam dan ditengok jalan lahirnya setiap jam oleh jari kasar suster yang sibuk merencanakan cuti serta ditunggui oleh suami yang asik menonton sepak bola.
Rindu itu adalah guguran daun yang telah tunaikan hijaunya, ditiup angin dari pegunungan, dan merengkuh tanah yang dicintainya. Untuk melengkapi hara kembali, menjadi rahim bagi biji dan melahirkan bunga berikutnya.
Rindu itu adalah menunggu. Melihat awan-awan berarak di kejauhan, berharap lewat di tempat seseorang.
Rindu itu Gemuruh yang menyadarkan awan dari kegalauannya sehingga turunlah hujan.
~* Did U hear the sound of the rain? *~
Jakarta, 8 Mei 2009

0 comments:
Post a Comment