Wednesday, December 7, 2011

Ilmu Terindah Dari Sebuah Melayani


Ilmu Terindah Dari Sebuah Melayani

Disaat wanita telah memasuki gerbang pernikahan, maka Allah akan menyediakan kesempatan bagi kita, untuk menjadi pribadi yang indah, bahkan jauh sangat lebih indah.

Dan sungguh, menjadi istri adalah sebuah keindahan yang tidak semua orang akan merasakan kesemua itu. Dan keindahan itu akan terasa sangat lebih indah saat kita dapat dari dalam hati menyadari dan ikhlas karena Allah tentang sebuah melayani.

Lihatlah betapa indahnya dirimu dengan melayani, senyummu tampak sumringah karena ingin seseorang yang kau layani akan merasa terdamaikan oleh keadaan karena adanya dirimu. Walau dalam bagaimanapun adanya keadaanmu sendiri.

Lihatlah betapa damai dirimu dengan melayani. Kau berikan jatah pikiran dan luasnya dadamu yang memang kadang sudah terasa sesak, demi kebahagiaan suami yang kau layani. Mengerti bahkan saat beliau tidak mngerti keadaan beliau sendiri, mendengarkan keluh kesah beliau, merangkul semua kondisi kacau balaunya beliau lengkap dengan semua kenegatifan sikap yang saat itu ditampilkan kepadamu. Manusia ajaib mana yang akan dapat begitu memaklumi keadaan dengan tetap tenang, selain seseorang yang memang tahu arti dari melayani dan meniatkan semua karena Allah?

Lihatlah betapa teduhnya dirimu dengan melayani. Dalam keadaan yang sudah tidak memungkinkan bagi batin sabarmu untuk bisa bersabar lagi, kau masih berusaha mengkontrol semua kemanusiawianmu sebagai wanita kebanyakan yang menangis, memaki, manja pada keadaan dan lain sebagainya. Kesemua karena kesadaranmu untuk tidak ingin memberatkan hati suami yang kau layani.

Lihatlah betapa cantiknya dirimu dengan melayani, kau tampilkan dirimu begitu elegan didepan suamimu, karena perasaan yang tak ingin mengecewakan beliau karena acak- acakannya dirimu.

Lihatlah betapa lembut dirimu dalam balutan kata- kata yang indah, serta nada bicara yang santun saat melayani. Siapa di dunia ini yang tidak punya potensi untuk berteriak dan berlaku kasar? namun dengan kesadaran melayani, maka pilihanmu pun jatuh untuk bersikap sebaliknya demi kedamaian yang kau layani. Bukan sia- sia pada akhirnya, yakinlah bahwa titik akhir dari semua itu, adalah paling tidak keadaan yang akan berbalik melayani dan memuliakan dirimu. Di dunia ini, dimana sih manusia yang tidak suka dimengerti oleh orang lain, apalagi jika manusia tersebut adalah suami kita sendiri?

Lihatlah betapa telah menjadi sabar dirimu saat melayani, teredamlah kemarahanmu karena kesadaran atas diri bahwa melayani itu indah. Indah dalam membahagiakan orang lain, dan bahkan indah dalam mengindahkan dirimu untuk terlalu jauh dalam berdekatan dengan emosi. Keluh kesah memang kadang ada, namun tidak bertengger terlalu lama dan terhapuskan dengan keindahan kesadaran bahwa pada saat tersebut, Allah ridho terhadap kita. disudut lain dari hati, diri diam-diam berdoa bahwa semoga Allah menghapus dosa- dosa kita lewat kesakitan tersebut.

Lihatlah betapa dengan melayani, kau telah memberikan pelajaran berharga kepada para suami untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pelayananmu, maka akan tersibukkan hari- harinya untuk bersyukur kepada Allah atas karunia keindahan sepertimu.

Subhanallah, betapa keajaiban dari kesadaran sebuah melayani, malah akan menjadikan diri kita mulia, bahkan lebih mulia dan terperbaiki. Dengan melayani kau menjadikan dirimu pantas untuk disayangi dan bahkan tidak terlalu pantas untuk disakiti. Dan bahkan semua manusia pasti hanya mempunyai satu hati untuk menyayangi, tidak lebih. dengan melayani kau menjadikan dirimu muara bagi suamimu, manusia tempatnya merasa kembali kerumah, untuk bisa merasa santai dan terdamaikan.

Melayani bukan menjadikan dirimu korban dan pihak yang selalu terkalahkan. Dengan melayani justru kau mengindahkan dirimu, dan menampilkan keadaanmu yang mungkin bakat itu tidak pernah kau sadari, bahwa kau bisa menjadi seindah itu. Benar- benar sebuah pendidikan diri yang sangat elegan dan berkelas.

Dan memanglah benar- benar indah jika sebuah pernikahan yang benar- benar ditujukan karena ingin beribadah kepada Allah. Sungguh benar ternyata bahwa dunia ini memang indah, dan seindah- indah perhiasan dunia adalah Wanita yang sholihah. Allah menjadikan kita indah dengan menjadi seorang istri, dan akhir dari sebuah niat adalah tergantung diri kita bagaimana menjadikan konsep keindahan itu untuk benar- benar menjadi indah. InsyaAllah...

(Syahidah/Voa-islam.com)

Istriku rumahku


Istriku, Rumahku

Pernahkah kita melihat, seorang suami yang begitu gamang hatinya dalam melihat hidup, karena tidak jelas arah tujuan dia melangkah?. Pernahkah kita menjumpai seorang suami yang begitu linglung menatap masa depannya, karena merasa tiada teman baginya untuk bisa sekedar memberinya saran?. Pernahkah kita melihat seorang suami yang tidak tenang menjalani hari- harinya walaupun dia telah memiliki segala yang diimpikannya?

Maka lihatlah keadaan rumahnya. Rumah tempat dia melepas penat dan tempat kembali sebagai akhir dari hari- harinya. Mungkin dia tidak nyaman dengan rumahnya, atau barangkali dia tidak merasa ada tempat kembali dari lusuh jiwanya.

Sungguh, bagaimanapun para suami di luar seharian, yang diinginkan adalah kembali pada rumahnya sendiri. Senyaman apapun para suami bergaul dengan banyak orang, bahkan mungkin saudara dan kerabatnya sendiri, maka hati mereka tetap mengharapkan kenyamanan yang lebih, di rumah mereka sendiri. Maka benarlah jika memang rumah seharusnya adalah menjadi sebaik- baik tempat untuk hati beristirahat.

Maka....

Seorang istri seharusnya adalah ibarat rumah bagi suaminya, tempat dimana para suami merasa kembali ke rumah, karena mendapatkan kenyamanan dan kedamaian bagi hati mereka yang lelah. Seorang istri seharusnya adalah ibarat rumah bagi suaminya, tempat dimana dia bisa menjadi apa adanya, tanpa harus dituntut menjadi sempurna. Seorang istri seharusnya menjadi rumah bagi suaminya, menjadi naungan yang menghangatkan ketika tidak ada lagi orang lain yang perduli terhadap mereka. Seorang istri seharusnya menjadi rumah bagi suaminya, tempat dimana jasad dan hati mereka bisa merasa rileks sepenuhnya.

Tapi lihatlah, bahkan banyak dari para istri yang tidak menyadari. Bahkan mereka membuat para suami mereka menjadi "gelandangan" karena merasa tidak lagi memiliki rumah tempat melepas lelah. Mulut dan perangai mereka serasa menambah capek dan panas suasana, bahkan dalam sebuah rumah yang begitu sangat megah. Kontrol diri dan hilangnya kesabaran membuat para istri lupa diri dan alfa dari sebuah pengabdian yang memuliakan mereka.

Jika saja para istri yang seperti itu menyadari, betapa dalam kesabaran berproses dalam menjadikan diri sebagai "rumah" yang nyaman bagi suaminya, berarti adalah mereka telah belajar memuliakan diri mereka sendiri. Jika saja mereka menyadari, bahwa jika kebahagiaan suaminya meretas, maka hal itu berarti adalah juga kebahagiaan bagi diri mereka sendiri.

Wahai para istri yang dirahmati Allah, hatimu yang mulia, akhlakmu yang mendamaikan, dan perangaimu yang teduh adalah sebaik- baik dan seindah- indah rumah bagi para suamimu. Maka rawatlah, jagalah dan bahagiakan mereka di dalamnya. Semoga dengan itu, suamimu akan senantiasa kembali pulang, untuk kembali menyegarkan jiwa dan pikiran mereka yang lelah setelah seharian di luar. Semoga dengan itu, Allah Subhanahu Wata'ala akan menghadiahimu dengan secantik- cantiknya istana disurgaNya yang abadi. InsyaAllah.

Monday, November 7, 2011

Untuk Suamiku


Aku menyayangi suamiku
dengan kata yang hampir tak mampu tertuliskan

aku menyayang suamiku
dengan tetesan peluh yang sungguh tak mampu kuhapuskan

aku menyayangi suamiku
dengan air mata yang tak pernah habis walau senantiasa menetes

aku menyayanginya
dengan doa doa ditiap saat rindu terasa begitu menyesakkan dada

aku menyayanginya
selayaknya seorang hamba memperbudak dirinya pada sang tuan

caranya menatapku, caranya membelaiku
sungguh tak kan pernah akan kutukar dengan lainnya

aku menyayanginya
selayaknya ia mencintai segala kekurangan yang kumiliki
kesabarannya dalam membimbingku
kepenatannya yang senantiasa tak di rasakannya demi menghidupiku

Rabbi...
Jaga dia selalu, karna tanpanya mungkin tak mampu aku terbang jauh



=== Jakarta, 8 Nov 2011 ===
=== I love him so much===

Wednesday, October 26, 2011

Long lasting love....



Pada hari pernikahanku, aku menggendong istriku. Mobil pengantin

berhenti di depan apartment kami. Teman-teman memaksaku menggendong

istriku keluar dari mobil. Lalu aku menggendongnya ke rumah kami. Dia

tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang kuat

dan bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Kami memiliki seorang anak, aku

bekerja sebagai pengusaha dan berusaha menghasilkan uang lebih. Ketika

aset-aset perusahaan meningkat, kasih sayang diantara aku dan istriku

seperti mulai menurun. Istriku seorang pegawai pemerintah. Setiap pagi

kami pergi bersama dan pulang hampir di waktu yang bersamaan. Anak kami

bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan pernikahan kami terlihat sangat

bahagia, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh

oleh perubahan-perubahan yang tak terduga.

Lalu Jane datang ke dalam kehidupanku. Hari itu hari yang cerah. Aku

berdiri di balkon yang luas. Jane memelukku dari belakang. Sekali lagi

hatiku seperti terbenam di dalam cintanya. Apartment ini aku belikan

untuknya. Lalu Jane berkata, "Kau adalah laki-laki yang pandai memikat

wanita." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan ku pada istriku. Ketika

kami baru menikah, istriku berkata "Laki-laki sepertimu, ketika sukses

nanti, akan memikat banyak wanita." Memikirkan hal ini, aku menjadi

ragu-ragu. Aku tahu, aku telah mengkhianati istriku.Aku menyampingkan

tangan Jane dan berkata, "Kamu perlu memilih beberapa furnitur, ok? Ada

yang perlu aku lakukan di perusahaan." Dia terlihat tidak senang, karena

aku telah berjanji akan menemaninya melihat-lihat furnitur. Sesaat,

pikiran untuk bercerai menjadi semakin jelas walaupun sebelumnya tampak

mustahil. Bagaimanapun juga, akan sulit untuk mengatakannya pada

istriku. Tidak peduli selembut apapun aku mengatakannya, dia akan sangat

terluka. Sejujurnya, dia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam,

dia selalu sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk di depan televisi.

Makan malam akan segera tersedia. Kemudian kami menonton TV bersama. Hal

ini sebelumnya merupakan hiburan bagiku.

Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, "Kalau misalnya

kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menatapku beberapa saat

tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seorang yang percaya bahwa

perceraian tidak akan datang padanya. Aku tidak bisa membayangkan

bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini.

Ketika istriku datang ke kantorku, Jane langsung pegi keluar. Hampir

semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan mencoba

menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya.

Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum dengan lembut

kepada bawahan-bawahanku. Tapi aku melihat ada perasaan luka dimatanya.

Sekali lagi, Jane berkata padaku, "Sayang, ceraikan dia, ok? Lalu kita

akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa ragu-ragu

lagi. Ketika aku pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan

malam. Aku menggemgam tangannya dan berkata, "Ada yang ingin aku

bicarakan."Dia kemudian duduk dan makan dalam diam. Lagi, aku melihat

perasaan luka dari matanya. Tiba-tiba aku tidak bisa membuka mulutku.

Tapi aku harus tetap mengatakan ini pada istriku. Aku ingin bercerai.

Aku memulai

pembicaraan dengan tenang.

Dia seperti tidak terganggu dengan kata-kataku, sebaliknya malah

bertanya dengan lembut, "Kenapa?" Aku menghindari pertanyaannya. Hal ini

membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan berteriak padaku, "Kamu bukan

seorang pria!" Malam itu, kami tidak saling bicara. Dia menangis. Aku

tahu, dia ingin mencari tahu apa yang sedang

terjadi di dalam pernikahan kami. Tapi aku sulit memberikannya jawaban

yang memuaskan, bahwa hatiku telah memilih Jane. Aku tidak mencintainya

lagi. Aku hanya mengasihaninya! Dengan perasaan bersalah, aku membuat

perjanjian perceraian yang menyatakan bahwa istriku bisa memiliki rumah

kami, mobil kami dan 30% aset perusahaanku.

Dia melirik surat itu dan kemudian merobek-robeknya. Wanita yang telah

menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku telah menjadi seorang yang asing

bagiku. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu, daya dan

tenaganya tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah aku katakan

karena aku sangat mencintai Jane. Akhirnya istriku

menangis dengan keras di depanku, yang telah aku perkirakan sebelumnya.

Bagiku, tangisannya adalah semacam pelepasan. Pikiran tentang perceraian

yang telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan, sekarang

menjadi tampak tegas dan jelas.

Hari berikutnya, aku pulang terlambat dan melihat istriku menulis

sesuatu di meja makan. Aku tidak makan malam, tapi langsung tidur dan

tertidur dengan cepat karena telah seharian bersama Jane. Ketika aku

terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku tidak mempedulikannya dan

langsung kembali tidur. Paginya, dia menyerahkan syarat perceraiannya:

Dia tidak menginginkan apapun dariku, hanya menginginkan perhatian

selama sebulan sebelum perceraian. Dia meminta dalam 1 bulan itu kami

berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin. Alasannya sederhana : Anak

kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan itu, dan dia tidak mau

mengacaukan anak kami dengan perceraian

kami. Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia meminta satu lagi,

dia memintaku untuk meingat bagaimana menggendongnya ketika aku

membawanya ke kamar pengantin, di hari pernikahan kami. Dia memintanya

selama 1 bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar kami,

ke pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia gila. Aku menerima

permintaannya yang aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir

kebersamaan kami lebih mudah diterima olehnya. Aku memberi tahu Jane

tentang syarat perceraian dari istriku. Dia tertawa keras dan berpikir

bahwa hal itu berlebihan. "Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap

menghadapi perceraian!" , kata Jane, dengan nada menghina.

Istriku dan aku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak keinginan

untuk bercerai mulai terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku menggendongnya

di hari pertama, kami berdua tampak canggung. Anak kami tepuk tangan di

belakang kami. Katanya, "Papa menggendong mama!" Kata-katanya membuat ku

merasa terluka. Dari kamar ke ruang tamu, lalu ke pintu depan, aku

berjalan sejauh 10 meter, dengan dirinya dipelukanku. Dia menutup mata

dan berbisik padaku, "Jangan bilang anak kita mengenai perceraian ini."

Aku mengangguk, merasa sedih. Aku menurunkannya di depan pintu. Dia

pergi untuk menunggu bus untuk bekerja. Aku sendiri naik mobil ke

kantor.

Hari kedua, kami berdua lebih mudah bertindak. Dia bersandar di dadaku.

Aku bisa mencium wangi dari pakaiannya. Aku tersadar, sudah lama aku

tidak sungguh-sungguh memperhatikan wanita ini. Aku sadar dia sudah

tidak muda lagi, ada garis halus di wajahnya, rambutnya memutih.

Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat aku terheran, apa yang

telah aku lakukan padanya.

Hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku merasa rasa kedekatan

seperti kembali lagi. Wanita ini adalah seorang yang telah memberikan 10

tahun kehidupannya padaku. Hari kelima dan keenam, aku sadar rasa

kedekatan kami semakin bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Jane.

Seiring berjalannya waktu semakin mudah menggendongnya. Mungkin karena

aku rajin berolahraga membuatku semakin kuat.

Satu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin kenakan. Dia

mencoba beberpa pakaian tapi tidak menemukan yang pas. Kemudian dia

menghela nafas, "Pakaianku semua jadi besar." Tiba-tiba aku tersadar

bahwa dia telah menjadi sangat kurus. Ini lah alasan aku bisa

menggendongnya dengan mudah. Tiba-tiba aku terpukul. Dia telah memendam

rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku

menyentuh kepalanya. Anak kami datang saat itu dan berkata, "Pa, sudah

waktunya menggendong mama keluar." Bagi anak kami, melihat ayahnya

menggendong ibunya keluar telah menjadi arti penting dalam hidupnya.

Istriku melambai pada anakku untuk mendekat dan memeluknya erat. Aku

mengalihkan wajahku karena takut aku akan berubah pikiran pada saat

terakhir. Kemudian aku menggendong istriku, jalan dari kamar, ke ruang

tamu, ke pintu depan.

Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan

erat, seperti ketika hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang

ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya,

sulit sekali bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah.

Aku menggendongnya dengan erat dan berkata, "Aku tidak memperhatikan

kalau selama ini kita kurang kedekatan."

Aku pergi ke kantor, keluar cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya.Aku

takut, penundaan apapun akan mengubah pikiranku. Aku jalan keatas, Jane

membuka pintu dan aku berkata padanya, "Maaf, Jane, aku tidak mau

perceraian." Dia menatapku, dengan heran menyentuh keningku. "Kamu

demam?", tanyanya. Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Maaf,

Jane, aku bilang, aku tidak akan bercerai." Kehidupan pernikahanku

selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku tidak menilai

segala detail kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai.

Sekarang aku sadar, sejak aku menggendongnya ke rumahku di hari

pernikahan kami, aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan

kami.

Jane seperti tiba-tiba tersadar. Dia menamparku keras kemudian

membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.

Di toko bunga, ketika aku berkendara pulang, aku memesan satu buket

bunga untuk istriku. Penjual menanyakan padaku apa yang ingin aku tulis

di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, aku akan menggendongmu setiap

pagi sampai maut memisahkan kita.

Sore itu, aku sampai rumah, dengan bunga di tanganku, senyum di wajahku,

aku berlari ke kamar atas, hanya untuk menemukan istriku terbaring di

tempat tidur - meninggal. Istriku telah melawan kanker selama

berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Jane sampai tidak

memperhatikannya. Dia tahu dia akan segera meninggal, dan dia ingin

menyelamatku dari reaksi negatif apapun dari anak kami, seandainya kami

jadi bercerai. -- Setidaknya, di mata anak kami --- aku adalah suami

yang penyayang.

Hal-hal kecil di dalam kehidupanmu adalah yang paling penting dalam

suatu hubungan. Bukan rumah besar, mobil, properti atau uang di bank.

Semua ini menunjang kebahagian tapi tidak bisa memberikan kebahagian itu

sendiri. Jadi, carilah waktu untuk menjadi teman bagi pasanganmu, dan

lakukan hal-hal yang kecil bersama-sama untuk membangun kedekatan itu.

Miliki pernikahan yang sungguh-sungguh dan bahagia.

Monday, June 20, 2011

For The Rest Of My Life


By Maher Zain

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO
And theres a couple words I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together eternally
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
OOOO
And theres a couple word I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart now that you`re here
Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally
For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you
I know that deep in my heart


Monday, March 21, 2011

Balada Tongkol ala Ibu Robie



BALADO TONGKOL ALA IBU ROBIE......

Friday, February 4, 2011

Lelakiku......


pagi ini hujan masih saja turun di depan rumah mungilku
semuanya basah, sebasah hati dan mataku. pagi ini rasa rindu itu benar - benar terasa begitu kuat. hingga dada terasa amat sesak. kembali ku buka facebook dari smartphonekuw..... saat melihat foto salah seorang rekan, kembali ada yang menusuk dan menikam hati. foto itu adalah foto seoorang bayi mungil yang baru saja dilahirkannya. ia adalah seorang sahabat yang baru saja menikah, tapi mungkin allah begitu percaya nya sehingga ia langsung diberi kemudahaan saat hamil dan pada akhirnya melahirkan dengan selamat.

kupandangi lagi wajah lelap suamikuw yang masih tertidur dengan pulasnya di atas ranjang kami. Wajah kelelahan tampak sekali tersirat di guratan wajahnya. laki - laki yang sudah hampir 2 tahun ini menemani hidupku. kalau tidak ada dia, mungkin saja aku sudah berada di rumah sakit jiwa saat ini. kupandang lagi bulir bulir gerimis yang sedari tadi tak mau pergi.....indah.
pikirankuw menerawang ke peristiwa 1 tahun lalu. itu adalah saat - saat terberat dalam hidupku. menikah dan langsung hamil, itu semua adalah karunia terbesar dari allah, kado dariNya untuk pernikahan kami. Awalnya semua berjalan lancar, kami dan keluarga sangat bahagia terlebih lagi setelah tau bahwa anak kami adalah laki - laki. Semua berjalan lancar, hingga usia kandunganku menginjak angka delapan bulan, bayiku akhirnya mengorbankan dirinya untukkuw. jantungku bengkak dan banyak cairan menggenang di paru - paruku, satu satunya jalan adalah menguras semua cairan itu dengan obat, dan semua cairan itu pun mengalir bersamaan dengan air seniku begitu pula halnya dengan air ketubanku. bayi pertamaku meninggal perlahan di dalam perutku, dia berkorban demi menyelamatkanku. perlahan air mata jatuh membasahi pipiku. bayi itu kuberi nama ARKASA HARIS DHARMA, arkasa berarti perkasa dan gagah, haris berarti pengikut, dharma berarti titah tuhan. ya......laki - laki perkasa yang mengikuti titah tuhannya. laki - laki kecil yang perkasa, yang dengan gagahnya menyelamatkan sang bunda dari kematian.

Kembali kulihat bayi mungil yang baru saja dilahirkan sahabatku itu. kalaulah lelakiku itu hidup, pasti dia sudah besar sekarang. kuhapus air mataku yang terus mengalir, aku tak mau kesedihan terus menghantui keikhlasanku. hari ini jika saja dia melihatku, aku ingin dia melihat bahwa ibunya adalah wanita yang tegar. aku ingin arkasa bangga, memiliki ibu seperti aku. Aku ingin disana, dia melihatku sambil tersenyum. bagaimanapun caranya, aku harus tetap hidup, karna aku tak mau menyia nyiakan pengorbanan lelakiku.

*arkasa.....mama tulis semua ini disaat kerinduan atasmu begitu dalam, bahagialah disana nak, mama disinipun bahagia, setidaknya mama pernah merasakan tendangan - tendangan kecilmu di perut mama. setidaknya selama hampir 8 bulan mama mengandungmu, papa tidak pernah absen membacakan shalawat dan alfatihah diperut mama untukmu sayang, dan saat papa selesai pasti arka selalu tendang - tendang perut mama. Terima kasih ya Allah, walau sesaat....kau telah pinjamkan dia untuk menjadi putraku.


Jakarta, 05 Februari 2011