
Pernah aku baca di sebuah majalah rohani, seorang istri dari suaminya (ya iya lah !) sedang pergi ke suatu tempat dengan menggunakan taxi. Di dalam taxi, wanita itu berinisiatif mengajak pak sopir mengobrol.
“Sudah berapa tahun nyopir taxi, Pak?”, tanyanya.
“Lumayan lama, Bu. Ini kira-kira sudah 7 tahun-an.”, jawab Pak Sopir nya.
“Wah lama juga ya. Bapak asli sini?”
—————– nih kalo diceritain detail bakal panjang deh, aku fastforward yah…
“Istri Bapak disini kerja juga?”
“Istri saya sudah meninggal, Bu. Sejak saya mulai kerja jadi sopir taxi. Kena kanker kandungan.”
Wanita tadi jadi terdiam, bingung mo ngelanjutin obrolannya. Yang membuatnya semakin termenung, kemudian…
“Istri saya itu orangnya baik banget, sayang ma keluarga, …… “, Pak Sopir melanjutkan tiba-tiba. Tapi kemudian dia terdiam dan jadi sesenggukan. Ternyata Bapak itu sedang menangis. “…seorang istri solehah buat saya, Bu.”, beliau menambahkan di sela ketermenungannya.
Wanita itu jadi ikut sedih juga jadinya, tapi yang bikin dia sangat terharu adalah :
‘Bapak itu kehilangan istri sudah 7 tahun lamanya. Tapi, begitu ia menceritakan 1 kalimat tentang istrinya, pada orang yang tidak begitu dikenalnya, ia menangis.’
Begitu dalam perasaan Pak Sopir taxi itu kepada istrinya. 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, untuk melupakan kepergian seseorang. Tapi ia masih menitikkan air mata saat ingat mendiang istrinya. Bagaimana besarnya pengabdian istri tersebut kepada keluarga, sehingga menimbulkan kesedihan yang demikian? Pastinya seorang istri yang sayang dan disayangi keluarga.
Wanita itu membatin dalam hatinya, “Ya Allah, salahkah aku? Dosakah aku? Kalo aku berharap suamiku menangis dikala nanti mengenangku yang telah pergi mendahuluinya. Semoga aku bisa menjadi istri yang seperti itu.”
Banyak orang bilang bahwa aku terlalu memanjakan suamiku. Benarkah itu??? sesungguhnya aku hanya ingin berikan yang terbaik untuknya. Selagi aku masih mampu. Selagi aku masih meiliki tenaga untuk melayaninya. Aku mencintai suamiku karnaMu ya Rabbi.Aku hanya ingin berbakti penuh pada suamiku. Jikalau itu salah dan aku memanjakannya.Jikalau karna itu dia berpaling dariku dan merepotkan aku. Sungguh aku Ikhlas dengan semua yang telah kuperbuat untuknya. Karna untukku, Dialahlaki -laki terbaik yang telah Tuhankupilihkan untuk mendampingiku.
Semoga aku bisa menjadi seperti istri bapak supir itu, Dicintai hingga saat ajal menjemputku kelak, dia akan menangisi ketidak beradaanku disisinya.
~* Si Gadis Embun *~
Jakarta, 9 Juli 2009
“Sudah berapa tahun nyopir taxi, Pak?”, tanyanya.
“Lumayan lama, Bu. Ini kira-kira sudah 7 tahun-an.”, jawab Pak Sopir nya.
“Wah lama juga ya. Bapak asli sini?”
—————– nih kalo diceritain detail bakal panjang deh, aku fastforward yah…
“Istri Bapak disini kerja juga?”
“Istri saya sudah meninggal, Bu. Sejak saya mulai kerja jadi sopir taxi. Kena kanker kandungan.”
Wanita tadi jadi terdiam, bingung mo ngelanjutin obrolannya. Yang membuatnya semakin termenung, kemudian…
“Istri saya itu orangnya baik banget, sayang ma keluarga, …… “, Pak Sopir melanjutkan tiba-tiba. Tapi kemudian dia terdiam dan jadi sesenggukan. Ternyata Bapak itu sedang menangis. “…seorang istri solehah buat saya, Bu.”, beliau menambahkan di sela ketermenungannya.
Wanita itu jadi ikut sedih juga jadinya, tapi yang bikin dia sangat terharu adalah :
‘Bapak itu kehilangan istri sudah 7 tahun lamanya. Tapi, begitu ia menceritakan 1 kalimat tentang istrinya, pada orang yang tidak begitu dikenalnya, ia menangis.’
Begitu dalam perasaan Pak Sopir taxi itu kepada istrinya. 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, untuk melupakan kepergian seseorang. Tapi ia masih menitikkan air mata saat ingat mendiang istrinya. Bagaimana besarnya pengabdian istri tersebut kepada keluarga, sehingga menimbulkan kesedihan yang demikian? Pastinya seorang istri yang sayang dan disayangi keluarga.
Wanita itu membatin dalam hatinya, “Ya Allah, salahkah aku? Dosakah aku? Kalo aku berharap suamiku menangis dikala nanti mengenangku yang telah pergi mendahuluinya. Semoga aku bisa menjadi istri yang seperti itu.”
Banyak orang bilang bahwa aku terlalu memanjakan suamiku. Benarkah itu??? sesungguhnya aku hanya ingin berikan yang terbaik untuknya. Selagi aku masih mampu. Selagi aku masih meiliki tenaga untuk melayaninya. Aku mencintai suamiku karnaMu ya Rabbi.Aku hanya ingin berbakti penuh pada suamiku. Jikalau itu salah dan aku memanjakannya.Jikalau karna itu dia berpaling dariku dan merepotkan aku. Sungguh aku Ikhlas dengan semua yang telah kuperbuat untuknya. Karna untukku, Dialahlaki -laki terbaik yang telah Tuhankupilihkan untuk mendampingiku.
Semoga aku bisa menjadi seperti istri bapak supir itu, Dicintai hingga saat ajal menjemputku kelak, dia akan menangisi ketidak beradaanku disisinya.
~* Si Gadis Embun *~
Jakarta, 9 Juli 2009

0 comments:
Post a Comment